Tuesday, 25 June 2019

2019, Harus Lebih Baik

Rabu, 2 Januari 2019 — 7:40 WIB
  • KITA telah memasuki hari kedua di tahun 2019. Ada yang menafsirkan  2019 sebagai puncak tahun politik karena 2 hajatan besar sebagai penentu perjalanan bangsa ke depan akan digelar.

Ada pula yang memaknai sebagai tahun penantian, perubahan, membawa harapan, impian dan aspirasi baru. Apa pun namanya, kita sepakat bahwa tahun ini harus lebih baik dari sebelumnya. Jika tidak lebih baik berarti sebuah kemunduran.

Kita tentu tidak ingin kesalahan masa lalu akan terulang kembali. Memang, kesalahan masa lalu tidak untuk disesali, tetapi tidak juga untuk diulangi.

Perenungan pengalaman masa lalu diperlukan sepanjang dapat dijadikan bahan evaluasi dan introspeksi  agar perjalanan ke depan menjadi lebih baik lagi.

Tak berlebihan sekiranya sebelum menentukam langkah lebih jauh ke depan, sejenak merefleksi diri pribadi. Maknanya adalah  mempelajari penyebab kesalahan, memetakan persoalan, kemudian mencari cara mengatasinya agar tidak terperosok ke dalam lubang yang sama.

Perenungan diri agar lebih baik lagi dalam menapaki perjalanan tahun ini hendaknya menjadi gerakan moral.

Maknanya terdapat kesadaran bagi setiap warga negara untuk memberikan yang terbaik bagi dirinya, lingkungam sosialnya. Lebih luas lagi, memenuhi kewajibannya sebagai warga negara yang taat asas, taat norma hukum, agama,  sosial dan budaya.

Tidak merugikan orang lain, tidak mengambil hak orang lain, tidak tergoda ajakan kolusi, korupsi dan nepotisme.

Dalam konteks perhelatan politik, hendaknya kita perlu lebih bijak dalam merespons isu- isu yang berkembang belakangan ini.

Ini dapat diartikan tidak tergoda hasutan, ujaran kebencian, fitnah dan dendam.

Masih dalam suasana kampanye pilpres seperti sekarang ini, masing -masing pihak perlu lebih mengendalikan diri agar tidak terbawa isu liar yang belum dapat dipertanggungjawabkan. Kroscek atas kebenaran informasi menjadi yang utama.

Lantas siapa yang memulai perubahan menjadi lebih baik? Idealnya para tokoh bangsa yang memberikan teladan. Diperlukan tindakan nyata dari pejabat negara, pejabat publik dan tokoh masyarakat sebagai gerakan moral menuju perubahan yang lebih baik lagi. Tetapi setidaknya bisa mulai dari diri kita sendiri. (*).