Monday, 21 January 2019

Tempat Wisata di Cirebon Kurang Perawatan

Jumat, 4 Januari 2019 — 9:08 WIB
Goa Sunyaragi Cirebon

Goa Sunyaragi Cirebon

JAKARTA– Cirebon, Jawa Barat belakangan ini menjadi tujuan favorit warga Jakarta dan sekitarnya untuk meghabiskan waktu libur. Ini terjadi setelah Tol Cikampek-Palimanan (Cipali) dioperasikan.

Jarak tempuh yang semakin dekat membuat penikmat wisata mau mendatangi Cirebon, pilihan lain setelah Bandung dan sekitarnya. Salah satu favorit warga datang ke Kota Udang itu adalah untuk wisata kuliner.

Makanan yang bervariasi terutama makanan khas lokal membuat warga Jakarta yang memang hobi makan rela datang jauh-jauh ke Cirebon.

Makanan yang diburu antara lain empal gentong, nasing lengko dan tentu nasi jamblang. Banyak yang menjual ketiga makanan ini di Cirebon.

Namun untuk empal gentong yang paling diburu adalah Empa Gentong Haji Apud di Jalan Ir H. Juanda No.24, Battembat, Tengah Tani,dan nasi jamblang Mang Dul di Jalan Doktor Cipto Mangunkusumo No.8, Pekiringan, Kesambi, Pekiringan, Kesambi, serta nasi lengko H. Barno.

patung-hewan

Patung hewan bernilai seni tinggi dibiarkan teronggo begitus saja rusak di Keraton Kesepuhan

Sebetulnya tidak hanya berburu kuliner. Masih ada tempat wisata yang layak didatangi seperti Kraton Kesepuhan dan juga Goa Sunyaragi tentu termasuk kawasan batik Trusmi yang sudah melegenda.

 

Sayang kedua obyek wisata ini kurang dipelihara dengan baik. Seperti Kraton Kesepuhan banyak fasilitas yang ada sudah tidak terawat. Sebut saja sumur tujuh kondisinya sangat memprihatinkan. Padahal untuk masuk ke lokasi yang berada di sisi kiri kraton tersebut haru bayar retribusi Rp 10 ribu perorang di luar masuk ke kawasan kraton Rp 5 ribu perorang.

Belum lagi kebersihan kawasan kraton jauh dari kesan istana raja. Sampah banyak berserakan, termasuk kolam yang ada di dekat pendopo tempat belar menari kondisinya memprihatinkan dipenuhi eceng gondok.

Menurut seorang abdi dalam memang biaya perawatan dari retribrusi HTM tentu tidak mencukupi.

Demikian juga Goa Sunyaragi kondisinya tidak lebih baik dari Kraton Kesepuhan. Padahal goa yang banyak cerita mistisnya ini bisa jadi obyek foto yang cukup memarik. Namun karena kurang dipelihara dengan baik akhirnya membuat pengunjung tidak betah berlama-lama di sana.

Diakui oleh abdi dalam Keraton Kesepuhan maupun penjaga Goa Sunyaragi, hasil retribusi HTM tidak cukup untuk biaya parawatan. Terutama untuk Krator Kesepuhan yang cukup luas di jantung Kota Cirebon.

Tentu kepedulian Pemkot Cirebon sangat diperlukan untuk memperhatikan biaya perawatan obyek wisata yang ada di sana. Sepertinya perlu dimasukkan ke APBD biaya pemeliharan karena setidaknya obyek wisata itu secara tidak langsung mendatangkan penghasilan daerah dari pajak yang dipungut dari wisatawan ketika menginap di hotel dan makan di restauran. (b)