Tuesday, 21 May 2019

OTT Itu “Ora Tuntas-Tuntas” Ya?

Sabtu, 5 Januari 2019 — 6:55 WIB
dulsoplka

Oleh S Saiful Rahim

BERBEDA dari biasanya, Dul Karung kali ini masuk ke warung Mas Wargo dengan senyuman terkulum seperti menyimpan rahasia. Dan juga, berbeda dengan biasanya, dia sama sekali tidak langsung mencomot singkong goreng melainkan langsung duduk dengan tenang.

“Tumben kau masuk langsung duduk tanpa mencomot singkong goreng dulu, Dul? Karena memasuki tahun baru kau masuk ke warung ini pun dengan gaya baru juga, ya?” tanya orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang.

“Mungkin apa yang dimakan dan diminum mulai hari pun akan dibayar kontan. Tidak pakai gaya “tarsok” sebagaimana biasanya,” sambung orang yang entah siapa dan duduknya di mana.

“Apa itu gaya “tarsok?” tanya orang yang duduk tepat di depan Mas Wargo. Dari aksennya mudah diterka bahwa sang penanya itu orang Sumatera Utara. Asli seratus persen.

“Tarsok,” itu maksudnya “ntar” atau “besok” bayarnya. Samalah itu dengan “setali tiga uang” menurut istilah kampungmu sana. Artinya utang jugalah,” jelas orang yang duduk tepat di kiri Dul Karung.

“Jadi tahun baru maupun tahun lama sama sajalah. Urusan utang, jalan terus! Begitu?” sela orang yang duduk di sebelah kanan Dul Karung.

“Alhamdulillah, kau benar sekali,” tanggap orang yang duduk di kiri Dul Karung lagi dengan sinis. Tapi anehnya, disusul oleh ledakan tawa dari beberapa hadirin yang lain dengan antusias yang tinggi.

“Astaghfirullah, kalian ini bagaimana? Sudah hampir tiga perempat abad kita merdeka tetapi yang kita miliki hanya utang dan utang terus. Dulu setiap ada yang mempertanyakan kapan negara kita makmur, para bapak pemimpin dan tokoh politik menjawab, “Sabar kita masih harus berjuang. Revolusi belum selesai. Ingat Amerika Serikat baru makmur setelah berumur seabad.”

Nah, kini negeri kita hampir berumur tiga perempat abad, tetapi belum jadi tiga perempat makmur. Apalagi tata tenteram karta raharja. Justru korupsi yang tumbuh subur di mana saja. Kita yang tahun ini akan memilih anggota DPRD dan DPR baru, kebingungan karena kehilangan kepercayaan terhadap caleg. Bahkan seorang Wakil Ketua Komisi di DPR sampai menulis di koran bahwa korupsi sekarang sudah mengalir sampai ke desa. Rupanya korupsi tak mau kalah dengan air sungai Bengawan Solo yang mengalir sampai jauh di musim hujan seperti sekarang.

Bahkan kini setiap kali membaca berita KPK berhasil menangkap koruptor dalam OTT aku mulai berpikir OTT itu barangkali artinya “Ora tuntas-tuntas?”

“Mas, saya makan singkong sepotong dan segelas teh manis. Nih! Saya bayar kontan. Saya pusing dengar pidato hoaks,” kata Dul Karung dengan setengah membentak pada Mas Wargo, tetapi matanya melirik lelaki berpakaian necis yang masih bicara juga.

Lalu Dul Karung pergi dengan gaya langkah orang baris mendengar aba-aba komandannya untuk banting kaki.***