Wednesday, 16 January 2019

Antisipasi Wabah DBD

Jumat, 11 Januari 2019 — 4:36 WIB

MEMASUKI musim penghujan, serta cuaca di Indonesia yang belakangan ini tidak menentu berpotensi menimbulkan berbagai ancaman. Bukan hanya banjir serta bencana lainnya, ancaman wabah penyakit juga menghantui warga. Berbagai penyakit berpotensi menjangkiti warga bila tidak diantisipai.

Genangan air kotor berdampak terjangkitnya beragam penyakit menular, baik penyakit yang terbawa air (water borne disease) maupun penyakit yang ditularkan lewat perantara (vector borne disease).

Beragam penyakit musiman yang menghantui warga antara lain diare, typus, diare, typus, leptospirosis (kencing hewan), infeksi kulit, demam berdarah dengue (DBD) maupun penyakit lainnya. Wabah penyakit yang paling menakutkan adalah DBD karena dengan cepat menjangkiti warga, termasuk di Jakarta yang menjadi langganan banjir, bila tidak diwaspadai.

Wabah penyakit kini tengah melanda puluhan warga di 16 desa di Kabupaten Banyumas, Jateng, sejak awal Januari lalu. Dalam satu desa, bahkan ada 27 orang sekaligus terserang demam. Beberapa di antaranya positif DBD. Di Provinsi Sulawesi Utara, juga termasuk wilayah endemik DBD. Sejak 1 Januari 2019 tercacat 67 kasus DBD, dan tiga orang meninggal dunia.

Wabah DBD bukan tidak mungkin terjadi Jakarta bila tidak diantisipasi sejak dini. Apalagi DBD di Ibukota pernah masuk dalam kategori kejadian luar biasa (KLB) DBD pada 2016. Semua rumah sakit tak mampu menampung pasien hingga mereka terpaksa dirawat di selasar maupun lorong rumah sakit. Hingga kini penyakit mematikan ini masih menjadi momok menakutkan.

Risiko wabah penyakit bisa meningkat karena pada musim pancaroba maupun musim hujan, daya tubuh akan berkurang siring dengan perubahan cuaca yang ekstrem. Apalagi bila pola hidup sehat serta kebersihan lingkungan tidak dijaga, maka warga akan rentan terserang penyakit.

Mengantisipasi kejadian seperti di Banyumas dan Sulawesi Utara terjadi di Jakarta dan sekitarnya semua komponen harus siaga sejak dini. Tindakan preventif melalui program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) door to door melibatkan kader jumantik maupun petugas puskemas dituntut lebih giat lagi.

Kesadaran masyarakat perlu diketuk dan diingatkan agar giat menjaga kebersihan lingkungan guna mencegah mewabahnya DBD. Karena gerakan PSN lebih efektif ketimbang fogging atau penyemprotan. Mencegah lebih baik daripada mengobati. **