Monday, 25 March 2019

Antrian Kapal di Makassar, Pelayaran Merugi

Jumat, 11 Januari 2019 — 20:21 WIB
antrian kapal

JAKARTA – Antrian kapal di Terminal Petikemas Makassar (TPM), sejumlah pelayaran merugi. Akibatnya mereka melakukan pungutan biaya tambahan kongesti (antrean sandar) atau surcharge conghesty hingga Rp 4 juta/kontainer kepada pengguna jasa.

Pemilik barang mengeluh dengan adanya rencana pungutan biaya tambahan atau surcharges congestion tersebut.

Pungutan surcharges tersebut akan dilakukam oleh pelayaran SPIL,Tanto Intim Line dan Meratus Line sebagai dampak dari antrian kapal di Pelabuhan Makassar.

Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder (ALFI/ILFA) Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Syaifuddin Saharudi menyebutkan tidak hanya PT Tanto Intim, tetapi juga PT Meratus Line, PT Salam Pacific Indonesia Lines (SPIL) dan PT Samudera Indonesia yang melakukan pungutan.

Dalam surat pemberitahuannya, Kamis (10/1/2019) bertuliskan, perusahaan pelayaran harus menarik surcharge conghesty, lantaran kapal yang antre berhari-hari di TPM bisa memicu kerugian, karena menunggu lama untuk bongkar muat.

Surcharges dikenakan terhadap angkutan peti kemas atau muatan yang masuk dan keluar dari pelabuhan Makassar terhadap kegiatan stuffing mulai ada yang memulai tanggal 9 dan 11 Januari 2019.

Bahkan secara rinci, PT Tanto Intim menyertakan besaran surcharge conghesty. Untuk full day Courier Own Container (COC) atau Kapal yang memiliki peti kemas dan Shipper Own Container (SOC) atau kontainer milik eksportir kategori 20 feet dikenakan surcharge conghesty Rp 1 juta per kontainer dan kategoti 40 feet dikenakan surcharge conghesty Rp 2 juta per kontainer.

Selain itu, untuk full reefer atau dilengkapi pengatur suhu, kategori 20 feet Reefer (RF) dengan surcharge conghesty Rp 2 juta per kontainer, dan 40 feet RF dengan surcharge conghesty Rp 4 juta per kontainer.

Pemilik barang juga diwajibkan untuk meng-cover muatan dengan asuransi tipe ICC-A (paling terluas) untuk mengurangi risiko kerugian jika terjadi musibah.

“Permasalahan konghesti ini disebabkan oleh operator pelabuhan. Antara kapasitas dan fasilitas tidak berimbang, sehingga terjadi antrean kapal yang panjang,” kata Ketua ALFI.

Namun tidak semua pelayaran mengenakan surcharges terhadap pemilil barang, diantaranya PT.Tempuran Emas Tbk (Temas Line), salah satu pelayaran peti kemas domestik yang tidak mengenakan surcharges atas layanannya.

“Saya memang dengar ada pelayaran yang berencana mengenakan congestion surcharges dari dan ke pelabuhan Makassar. Tapi kami (Temas) gak ikut kenakan surcharges, kami justru ingin bantu supaya antrean kapal di Makassar bisa segera diurai,”ujar Teddy Arif Setiawan, Direktur Operasi PT.Pelayaran Tempuran Emas Tbk (Temas Line)

Dirut PT Pelabuhan Indonesia IV, Farid Padang terkejut mendengar adanya rencana sejumlah pelayaran kontainer domestik yang akan mengenakan surcharges congestion dari dan ke Pelabuhan Makassar.

“Kami justru sedang membenahi pelayanan di pelabuhan agar antrean kapal bisa cepat terurai. Kalau ada surcharges (pelayaran) hal ini justru bisa menambah beban biaya logistik,” ujarnya.

Farid mengatakan, pihaknya sudah memberikan beberapa kemudahan dan pengurangan beban tarif di pelabuhan, termasuk layanan air bersih ke kapal. (dwi/b)