Wednesday, 16 January 2019

Demi Ibu, Tinggalkan Kuliah Pilih jadi Polisi

Jumat, 11 Januari 2019 — 1:23 WIB
AKBP Sapta Marpaung

AKBP Sapta Marpaung

MENERUSKAN garis keturunannya sebagai keluarga besar anggota Polri, membuat Sapta Maulana Marpaung berkarier di dunia kepolisian. Bungsu dari enam saudara ini diminta sang ibu melanjutkan ‘darah polisi’ agar tetap mengalir di tubuh keluarganya.

Diceritakan Sapta, perjalanan hidupnya dimulainya ketika lulus SMA tahun 1998 lalu. Kala itu, semua kakaknya kuliah, membuatnya ikut mengenyam pendidikan lebih tinggi. “Saya kuliah di Fakultas Ekonomi dan ambil jurusan Manajemen,” katanya. Saat kuliah di semester pertama, ibunya memintanya agar dia mengikuti jejak ayahnya sebagai anggota Polri.

Hampir setiap malam, kata Sapta, ibunya membujuknya agar masuk kepolisian. “Suata ketika ibu bilang, ‘coba saja dulu, ikut tes. Kalau lulus jadi polisi ya kalau nggak kuliah lagi,’ saya cuma menganggukkan kepala,” ujar pria yang saat ini bepangkat AKBP sebagai Kasubdit Ranmor Dirkrimum Polda Metro Jaya.

Bujuk rayu ibu itu membuatnya luluh. Dia menuruti keinginan sang ibu dengan tes polisi bersama dua rekan mainnya. Saat itu, kedua temanya lulus, dia gagal. “Saya kesal. Lantaran penasaran, tahun depan saya daftar lagi di Akpol dan diterima,” ujar mantan Kasat Reskrim Polres Jaktim ini. Ibunya senang bukan kepalang. “Melihat ibu senang, membuat saya termotivasi menjadi anggota Polri yang berprestasi,” tuturnya.
BAKU TEMBAK

Prestasinya dimulai saat menjabat Kanit Jatanras Polda Riau. Dengan pangkat Kompol, ia menganggap sebagai abdi negara yang siap memberikan keamanan dan kenyamanan bagi warga. “Selama menjabat Kanit itulah paling berkesan,” imbuhnya.

Saat itu, kata bapak tiga anak ini, dia meraih prestasi lantaran meringkus buronan Polda Riau dan Polda Metro Jaya. Perampok yang ditangkapnya itu adalah gembok garong toko emas di lima lokasi berbeda. Bahkan pelaku disersi dan pernah dijebloskan ke penjara, tapi kabur setelah membunuh sipir lapas.

Hampir sebulan, dia memburu gembong perampok dengan bolak balik Lampung-Palembang. Tahun 2013 usai Salat Idul Adha, ia mendapat informasi keberadaan buruan yang dicarinya itu. “Garong itu sembunyi di rumah istri keduanya di Indra Giri, Pekanbaru. Saya pantau dua hari lamanya,” ujar Sapta.

Dari penantiannya itu, akhirnya membuahkan hasil. Dia melihat pelaku berada di dalam rumah. Bersama tujuh anak buahnya rumah istri kedua garong itu digerebek sekitar pukul 04:30. “Saya langsung ke depan rumah dan ketuk pintu, ‘Bapak ada?’ Istrinya menjawab, ‘tak ada’. Tapi saya ngintip suaminya mencoba kabur ke arah dapur,” ungkapnya.

Dia minta istri buronanya membawa anaknya keluar rumah. Dia bersama anggotanya masuk ke rumah, sisanya mengepung di luar. “Begitu masuk cek dapur tak ada, kamar kosong. Tak tahunya dia ngumpet di bawah rumah, dan langsung mengeluarkan tembakan peringatan agar menyerah,” terangnya.

TERTEMBAK

Tapi garong malah membalas tembakan. Anak buahnya Aulia Harahap terkapar tertembak di bagian pipi kirinya dan mengenai tulang tengkorak. Ia pun panik, kalap, dan marah, “Hampir tiga jam penggerebekan itu kami lakukan dengan saling buang tembakan,” kenangnya. . Akhirnya pentolan garong itu tewas setelah tertembus peluru. “Kala itu saya selalu memikirkan Aulia Harahap, semoga dia dapat bertahan hidup,” ucpanya.

Dari pengungkapan itu, Sapta mendapatkan penghargaan. Sejak itu, berbagai prestasi ia dapatkan hingga dipercaya sebagai Kasat Reskrim Polres Jakarta Timur. “Saat ini, saya hanya ingin bekerja lebih baik lagi. Menembak kalau benar-benar terpaksa,” ujarnya.

Saat menjabat sebagai Kasat Reskrim, berbagai prestasi juga didapatkannya. Di antaranya dia mengungkap kasus perampokan dengan pembunuhan yang menewaskan enam orang akibat disekap di kamar mandi. “Kasus perampokan rumah di Pulomas juga sangat berkesan karena berhasil diungkap,” tengahnya. (ifand/iw)