Thursday, 27 June 2019

Menanggapi Demo

Merugi, Alasan Supermarket Ini Mem-PHK 523 Karyawannya

Jumat, 11 Januari 2019 — 16:58 WIB
Ribuan karyawan Hero saat mengelar aksi demo di kantor pusat Giant Hero super market di kawasan CBD Bintaro,  Pondok Are.  (anton)

Ribuan karyawan Hero saat mengelar aksi demo di kantor pusat Giant Hero super market di kawasan CBD Bintaro, Pondok Are. (anton)

TANGERANG – PT Hero Supermarket Tbk mengaku kurun waktu tiga tahun sejak 2015 hingga 2018 perusahaan merugi hingga 1 persen dari pemasukan tahun 2017 sekitar Rp 9,9 miliar menjadi Rp 9,8 miliar.

“Ada penurunan total penjualan 1 persen atau Rp 9.849 miliar ditahun 2018 dari tahun 2017 yang mwncapai Rp 9.961 miliar, ” kata Corporate Affairs GM PT Hero Supermarket Tbk, Tony Mampuk menanggapi aksi demo ribuan karyawan Giant dan Hero Supermarket Tbk, di kantor Pusat PT Hero Supermarket Tbk, di Bintaro, Tangsel, Jumat (11/1/2019)

alfairs

Corporate Affairs GM PT Hero Supermarket Tbk, Tony Mampuk saat menjelaskan masalah PHK perusahaan tersebut.  (anton) 

Dengan kondisi tersebut pihak perusahaan terpaksa mem-PHK 532 orang dari 26 ritel Giant Supermarket di seluruh Indonesia hingga kuartal ketiga tahun 2018 ini.

(Baca: Ribuan Karyawan Supermarket Demo di Bintaro)

Penurunan kinerja ritel itu disebabkan oleh penjualan pada bisnis makanan yang lebih rendah dibanding tahun sebelumnya. “Meski demikian, bisnis non makanan tetap menunjukkan pertumbuhan yang cukup kuat. Atas hal tersebut, perusahaan meyakini bahwa keputusan akan langkah efisiensi tersebut adalah hal yang paling baik dalam menjaga laju bisnis yang berkelanjutan,” ujarnya.

Menurut dia, PT Hero Supermarket Tbk (HERO Group), telah menerapkan strategi yang mendukung keberlanjutan bisnis dengan memaksimalkan produktivitas kerja melalui proses efisiensi.

“Dari 532 karyawan yang terdampak dari kebijakan efisiensi tersebut, 92 persen karyawan telah mengerti dan memahami kebijakan efisiensi ini dan menyepakati untuk mengakhiri hubungan kerja,” katanya.

Sebanyak 26 toko telah ditutup dan dari 532 karyawan yang terdampak dari kebijakan efisiensi tersebut, 92 persen karyawan telah menerima dan menyepakati untuk mengakhiri hubungan kerja (PHK), serta telah mendapatkan hak sesuai dengan Undang-Undang Kementerian Tenaga Kerja RI No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

Perusahaan saat ini sedang menghadapi tantangan bisnis khususnya dalam bisnis makanan. Sehingga pihaknya mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga keberlangsungan usaha di masa yang akan datang.

“Jadi PHK karyawan yang dilakukan tidak mendadak tapi sudah melalui berbagai proses serta penjelasan selama tiga bulan dan disetujui 532 orangnkaryawan kepada seluruh karyawan, ” tuturnya. (anton/b)