Monday, 21 January 2019

Rahaf al-Qunun: Cuitan Perempuan Saudi yang Menyelamatkan Hidupnya

Jumat, 11 Januari 2019 — 7:56 WIB
Dia mengkhawatirkan nyawanya dan Twitter menjadi penyelamat.

Dia mengkhawatirkan nyawanya dan Twitter menjadi penyelamat.

THAILAND– Pada Sabtu (5/1) malam, suatu keadaan membahayakan terungkap lewat akun baru Twitter.

Rahaf Mohammed al-Qunun, 18 tahun, yang melarikan diri dari keluarganya di Kuwait, mengirimkan serangkaian cuitan memohon pertolongan dari sebuah kamar hotel di Bangkok, Thailand.

Saat itu dia hanya diikuti 24 orang.

“Saya anak perempuan yang melarikan diri ke Thailand. Saya sekarang dalam keadaan bahaya karena Kedutaan Besar Arab Saudi mencoba untuk memaksa saya pulang,” demikian isi cuitan pertamanya dalam bahasa Arab.

Kemudian dia mengatakan sesuatu yang banyak mendapat perhatian, “Saya ketakutan. Keluarga saya akan membunuh saya.”

Orang melihatnya dan cuitan pertama dengan tagar #SaveRahaf dikirimkan.

Beberapa menit kemudian pegiat Amerika asal Mesir, Mona Eltahaway menerjemahkan cuitan ke dalam bahasa Inggris dan mengirimkannya ke ratusan ribu pengikutnya.

Beberapa jam kemudian cuitan tersebut diperhatikan Human Rights Watch dan akhirnya wakil direktur Asia LSM itu di Bangkok, Phil Robertson, mengirimkan hal ini. ‏
Satu hari beriktunya, pada Minggu dini hari, dia bertukar pesan Twitter secara langsung dengan Mohammed al-Qunun, memandu perempuan muda tersebut saat berurusan dengan petugas bandara.

#SaveRahaf

Meskipun begitu dia terus mencuit langsung setiap menit terkait dengan pengalamannya dan menaruh video yang memperlihatkan semua hal yang dialaminya di bandara. Sepanjang hari Minggu itu, unggahannya semakin populer.

Ketakutan dan keputusasaan yang disampaikan lewat cuitan mengundangkan simpati dan dukungan pengguna Twitter.

Cuitan dengan hashtag #SaveRahaf semakin populer dan pada Minggu sore, terdapat lebih dari setengah juta cuitan, menurut Twitter.

Seorang remaja tidak dikenal di Arab Saudi yang sebelumnya tidak pernah didengar dengan hanya 24 pengikut, dalam waktu kurang dari 24 jam diikuti 27.000 orang.

“Ketika saya mendengar pernyataan terbuka Rahaf Mohammed al-Qunun bahwa dia meninggalkan agamanya, saya mengetahui keadaan akan menjadi sangat buruk jika dia dikirim langsung ke Arab Saudi,” kata Phil Robertson kepada BBC News.

“Saat itu, tidak ada lagi yang perlu dipertanyakan di pikiran saya – dia memerlukan bantuan kami.”

Orang yang meninggalkan agama Islam atau apostasy akan dihukum mati di Arab Saudi.

Gerakan menyelamatkan Rahaf al-Qunun terus meningkat terutama di Australia negara di mana dia sekarang kemungkinan akan diberikan izin tinggal.

“Twitter bertujuan memberikan platform dimana suara yang terpinggirkan dapat dilihat dan didengar. Ini adalah hal mendasar terkait dengan siapa kita dan sangat penting bagi keefektifan layanan kami,” demikian pernyataan resmi yang diterima BBC.

Menjadi dramatis

Senin pagi, keadaan semakin memburuk dengan kedatangan pejabat imigrasi Thailand di kamar hotel Rahaf untuk mendeportasinya ke Kuwait.

Lewat percakapan langsung di Twitter, Rahaf mengikuti masukan Human Rights Watch: untuk tidak menyerahkan telepon genggamnya, sama sekali.

Dan ini menjadi hal yang sangat penting.

Remaja panik yang berlindung pada wartawan Australia, Sophie McNeill itu menolak menaiki pesawat. Dia terus menerus mendokumentasikan pengalamannya di Twitter.

Pengikutnya berlipat dua menjadi lebih 66.400 orang.

Wartawan Asia Tenggara BBC, Jonathan Head, yang menjadi bagian dari jaringan wartawan asing yang terus mengikuti kasus Rahaf al-Qunun mengatakan perhatian sangat besar yang didorong media sosial adalah faktor penting terhadap yang terjadi pada Rahaf.

“Rahaf Mohammed al-Qunun adalah seorang perempuan muda yang ketakutan. Perhatian pada nasib Rahaf mempengaruhi dukungan di Twitter saat pemerintah Thailand berencana mendeportasinya pada hari Senin pagi.

“Ini adalah cerita kemanusiaan yang sangat kuat, terjadi saat itu juga, yang tidak pasti akan berakhir seperti apa.”

“Terkait dengan penciptaan dukungan dan respon terhadap keadaan krisis, Twitter adalah alat media sosial yang tepat bagi Rahaf Mohammed al-Qunun karena memungkinkan berbagi informasi dengan cepat,” kata Phil Robertson.

“Peningkatan dukungan di Twitter (tidak hanya) diperhatikan wartawan dan editor, hal ini juga mengundang perhatian media umum Thailand. Cuitannya juga menarik perhatian diplomat setempat disamping pejabat tinggi UNHCR dan pemerintahan.

Ini sangat penting dalam mendesak Thailand memikirkan ulang pendekatan mereka, begitu sudah jelas bahwa Rahaf Mohammed al-Qunun tidak akan berdiam diri.”

“Minggu malam, para pejabat Thailand berkeras bahwa dia akan dikirim pulang dan media Thailand masih belum melaporkan berita ini, tetapi pada Senin pagi keadaan berubah,” lapor wartawan BBC Jonathan Head.

Sekarang Rahaf al-Qunun telah aman, dia dinyatakan sebagai pengungsi oleh PBB.(BBC)