Sunday, 16 June 2019

Ratu Kecantikan Aljazair, Menyerang Balik Pengkritiknya

Jumat, 11 Januari 2019 — 21:32 WIB
Ben Hamou mampu melalui 20 putaran dalam kontes kecantikan itu sebelum akhirnya berhasil dinobatkan sebagai Miss Aljazair 2019 pada Sabtu lalu.

Ben Hamou mampu melalui 20 putaran dalam kontes kecantikan itu sebelum akhirnya berhasil dinobatkan sebagai Miss Aljazair 2019 pada Sabtu lalu.

ALJAZAIR- Pemenang kontes kecantikan Miss Aljazair, yang baru saja dinobatkan, menyerang balik pengkritiknya yang bertindak rasis kepadanya terkait warna kulitnya.

“Saya tidak akan mundur karena orang-orang mengkritik saya,” kata Khadida Ben Hamou kepada situs berita Aljazair, TSA.

Kecaman terkait warna kulitnya yang gelap, bentuk bibir, serta hidungnya, telah membanjiri Facebook dan Twitter.

Orang-orang Aljazair yang berkulit hitam acapkali menghadapi perlakuan diskriminasi di negara yang terletak dikawasan Afrika utara itu.

Ben Hamou, yang berasal dari Adrar di wilayah selatan Aljazair, mengatakan dia bangga dengan identitasnya dan kemenangan yang telah dia raih.

“Saya merasa terhormat atas capaian impian saya, dan saya merasa terhormat karena berasal dari Adrar, tempat dari mana saya berasal,” katanya.

“Saya juga mendorong gadis-gadis di daerah saya untuk berpartisipasi dalam kompetisi jika mereka ingin melakukannya,” tambahnya.

Menurut majalah mode Vogue, dia adalah perempuan berkulit hitam kedua – setelah Nassima Mokadem pada 2005 – yang memenangkan kontes kecantikan tahunan.

Ben Hamou mampu melalui 20 putaran dalam kontes kecantikan itu sebelum akhirnya berhasil dinobatkan sebagai Miss Aljazair 2019 pada Sabtu lalu.

Para pengkritiknya mengatakan dia tidak mewakili kecantikan ala Aljazair, tetapi dia menerima banyak dukungan dari orang lain di media sosial.

Ben Hamou mengatakan kepada TSA, “Jangan menilai orang tanpa mengetahui siapa mereka, tidak ada perbedaan antara orang berkulit hitam dan putih.”

Panitia penyelenggara Miss Aljazair mengatakan mereka menyesalkan “perilaku rasis dan komentar sejumlah orang sebagai akibat publikasi dan foto-foto”. (BBC)