Wednesday, 20 March 2019

Berharap dari “Sepuluh Bali”

Sabtu, 12 Januari 2019 — 7:59 WIB
dulkarung

Oleh S Saiful Rahim

“BUKAN main! Luar biasa!” kata Dul Karung sambil melangkah masuk ke warung kopi Mas Wargo. Orang-orang yang ada pun terperanjat.

Sebelum ucapan assalamu alaykumnya dijawab oleh hadirin, kata “bukan main” dan “luar biasa” itu langsung diberondongkan seperti mitraliur di medan perang. Dan orang yang duduk di dekat pintu masuk segera bergeser memberi tempat Dul Karung duduk.

“Aku baru baca berita, katanya pengembangan destinasi wisata “10 Bali Baru” telah mencapai 110 persen. Gila gak tuh!” jawab Dul Karung sambil mencomot singkong yang masih kebul-kebul dan langsung mencaploknya.

“Yang gila itu siapa dan kenapa?” tanya yang orang duduk di ujung kiri bangku panjang.

“Ini bukan soal siapa. Tapi bangsa kita kalau sudah berurusan dengan hal-hal yang menyangkut Bali selalu luar biasa dalam hal apa pun. Di mana-mana banyak proyek atau rencana yang gagal, tapi di Bali semua bisa dikebut. Kecuali Kampung Bali Tanah Abang yang makin hari makin sumpek,” kata Dul Karung lagi. Kali ini sambil menyeruput teh manis.

“Sama dengan Kebon Sirih, tanah air leluhurmu ya Dul. Jangankan kebunnya, daun sirihnya saja di Kebun Sirih lebih susah dicari daripada mencari dolar uang Amerika itu, ya?” potong orang yang entah siapa dan duduk di sebelah mana.

“Kalian sudah lupa? Di luar negeri sono, katanya kalau orang menyebut Indonesia akan ditanya Indonesia itu letaknya di sebelah mana Pulau Bali. Jadi jangan kaget apalagi iri kalau dalam hal apa pun Bali paling dululah,” sambut Mas Wargo yang jarang ikut campur mengobrol dengan para pelanggannya.

“Aku kira omongan kalian salah semua. Kalian kayak Si Dul dan kebanyakan tokoh kita sekarang. Lebih-lebih tokoh atau yang merasa tokoh, politik. Sok ngritik tapi tak tahu apa yang dikritiknya itu,” sela orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

“Apa salahnya?” tanya Dul Karung setengah marah.

“Yang disebut “10 Bali Baru” itu bukan sepuluh destinasi pariwisata baru di Pulau Bali, tapi 10 destinasi wisata baru yang terserak di banyak pulau, akan dibuat selaris Pulau Bali,” jelas orang itu.

“Wah! Kalau begitu bagus sekali, dong!” puji orang yang duduk di kanan Dul Karung. “Apalagi sekarang jalan tol sudah sambung menyambung di mana-mana ya? Wah, hebat deh,” sambungnya dengan antusias tinggi.

“Tapi kalau jalan saja yang sambung menyambung tidak cukup. Kan wisatawan itu bukanlah serombongan sopir dan mobil, tapi orang-orang elite yang membutuhkan hotel, restoran, serta hiburan. Dan semua itu akan lebih mereka butuhkan dan sukai bila berciri khas budaya setempat. Sebagai negara seribu pulau kita juga memiliki sebanyak itu ragam budaya. Bodoh sekali kalau kepada tamu yang datang dari ribuan mil jauhnya kita suruh makan dan nonton apa yang nun di negerinya juga ada,” sambung orang yang kelihatannya cukup cerdas itu.

“Kira-kira debat kusir para politisi kita mereka suka atau tidak ya,” sela Dul Karung seraya meninggalkan warung begitu saja***