Monday, 25 March 2019

Guru Tersangkut Hoaks 7 Kontainer Surat Suara, FSGI Rekomendasikan Ini

Sabtu, 12 Januari 2019 — 17:31 WIB
ilustrasi

ilustrasi

JAKARTA – Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menyoroti salah satu tersangka, MIK, yang merupakan seorang guru di Cilegon, Banten, dan kini tengah tersandung kasus hoaks tujuh kontainer surat suara tercoblos.

Sekretaris Jendral FSGI, Heru Purnomo menilai, guru maupun dosen merupakan sosok intelektual yang memiliki cara berpikir kritis. Sehingga, menurutnya, sangat disayangkan seorang guru sampai menjadi salah satu tersangka dari kasus penyebaran hoaks semacam ini. Apalagi sebelumnya pada Februari 2018 lalu, seorang guru lainnya di Banten turut menjadi tersangka karena menyebarkan hoaks soal PKI.

“Rentetan kasus oknum guru (termasuk dosen) yang menyebarluaskan berita hoaks di atas, membuat keprihatinan yang mendalam bagi FSGI. Sebab guru dan dosen sejatinya adalah intelektual, yang lekat dengan nilai-nilai akademis, ilmiah, objektif, rasional dan kritis. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Guru berpikir dan bertindak tidak rasional dan tidak kritis lagi,” tulis Heru dalam keterangan tertulis, Sabtu (12/1/2019).

Menurutnya, cara berpikir tidak kritis ini lah yang menyebabkan seseorang tidak menindaklanjuti berita maupun informasi yang diterimanya lebih dahulu, sebelum disebarkan ke orang lain. “Adanya oknum guru yang suka menyebarkan berita berkonten hoaks dan hate speech, mengindikasikan jika keterampilan berpikir kritis ini belum sepenuhnya dipahami dan diimplementasikan oleh para guru di ruang kelas sehari-hari,” katanya.

(BacaVideo ‘Surat Suara Tercoblos’, 99% Identik dengan Suara BBP)

Oleh karena itu, ia mengatakan, ada tiga hal yang direkomendasikan oleh FSGI agar tidak ada lagi guru maupun dosen terjerat kasus serupa. Tiga hal tersebut di antaranya, meminta Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) agar memberikan pelatihan keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS) kepada para guru, peningkatan literasi digital kepada para guru serta meminta kepada para kepala sekolah dan pengawas untuk lebih mengawasi dan memastikan guru-guru tidak melakukan sesuatu berbau politik ketika berada di ruang kelas.

Ia menjelaskan, keterampilan HOTS ini bukan hanya bertujuan membuat soal maupun jawaban soal ujian saja, tetapi bertujuan mengasah cara berpikir para pendidik di Indonesia agar lebih kreatif, kritis, inofativ, analitis serta mamapu memecahkan masalah. “Jika gurunya sudah mampu berpikir dan bertindak HOTS, maka tentu para peserta didiknya akan juga terbiasa berpikir HOTS,” imbuh Heru.

Selanjutnya, FSGI juga mendesak perlunya literasi digital bagi guru, mengingat tingginya pengunaan internet dan kepemilikan gadget saat ini. Tak hanya dituntut harus rajin membaca buku dan memahami isinya saja, guru juga didesak untuk terampil dalam menggunakan media sosial.

“Guru seharusnya tidak mudah percaya dengan apa yang disuguhkan oleh internet, tetapi mekanisme berpikir kritis dan verifikatif harusnya lebih dulu dilakukan. Jika ada berita yang belum valid kebenarannya bisa dipastikan dulu,” sambungnya.

(BacaLagi, Polisi Tangkap Penyebar Hoaks 7 Kontainer Surat Suara Tercoblos)

Selain itu FSGI juga merekomendasikan pengawasan kepada guru perihal berpolitik di dalam kelas. “Para kepala sekolah dan pengawas harus mengawasi jika ada oknum guru yang berpolitik praktis di ruang kelas. Jika ada guru yang memengaruhi pilihan politik siswa,” tandasnya.

Sebelumnya, seorang tersangka berinisial MIK (38) ditangkap di Cilegon akibat menyebarkan berita bohong atau hoaks terkait tujuh kontainer berisi surat suara tercoblos di Tanjung Priok. Diketahui, tersangka MIK merupakan seorang guru yang mengajar di Cilegon, Banten. (cw2/ys)