Monday, 25 March 2019

KPK Tiada Henti Diteror

Sabtu, 12 Januari 2019 — 7:40 WIB

TEROR kepada Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) masih saja terjadi, seolah tiada henti.Terakhir ditujukan kepada Ketua KPK Agus Rahardjo dan Wakil Ketua Laode Muhammad Syarief.

Pada Rabu (9/1/2019) lalu, rumah Agus Rahardjo di Perumahan Graha Indah, Jatiasih, Kota Bekasi jadi sasaran teror. Benda mirip bom paralon disangkutkan ke pagar rumah itu pada pukul 05.30 WIB.

Dua bom molotov juga dilemparkan ke rumah Laode Syarif di Kalibata, Jakarta Selatan. Kedua insiden yang terpaut beberapa jam itu merupakan teror kesembilan yang dialami pegawai, penyidik maupun pimpinan KPK.

Wadah Pegawai KPK mencatat kesembilan kasus tersebut belum tuntas terungkap, termasuk penyiraman air keras kepada penyidik senior KPK Novel Baswedan yang terjadi 20 bulan lalu.
Apakah hanya sembilan kasus teror yang dialami KPK? Data yang tercatat demikian. Lantas bagaiman dengan ancaman teror yang bukan berbentuk fisik, misalnya gangguan melalui telepon dan sejenisnya. Kita berharap tak ada dark number karena kasusnya tidak dilaporkan.

Jika melihat bentuk teror , tujuannya bukan untuk “melenyapkan” sasaran yang dituju, tetapi semacam warning kepada penyidik KPK. Hanya saja bentuk ancaman semakin meluas, sudah bergeser. Tidak ditujukan kepada pribadi pegawai/penyidik/pimpinan KPK, tetapi sudah mengarah kepada rumah dan keluarga korban. Pelemparan bom molotov menjadi salah satu indikasi.

Meski belum dapat didentifikasi secara pasti motivasi di balik penyerangan ( karena pelaku belum tertangkap), tetapi teror yang ditebar semakin memberi sinyal agar anggota dan pimpinann KPK harus lebih waspada menghadapi segala ancaman.

Memang itu risiko sebuah tugas, tapi bukan berarti personel KPK lepas dari penjagaan keamanan. Keselamatan harus dapat terjaga agar jangan sampai melemahkan upaya pemberantasan korupsi.

Kami meyakini personel KPK tak akan undur sejengkal pun membernatas korupsi, sekalipun ancaman teror terus membayanginya. Sikap semacam ini tak cukup diapresiasi, tetapi bagaimana terdapat solusi agar teror tidak terjadi lagi.

Kami juga meyakini Kepolisian tetapi komit menyelsaikan semua kasus teror yang menimpa siapa saja, apalagi kepada aparat penegak hukum. Bahkan Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis pernah mengatakan kasus yang belum terungkap, termasuk penyiraman air keras kepada Novel Baswedan dinilainya sebagai utang yang harus dilunasi.

Persoalan muncul karena terkadang minimnya alat bukti mengingat, seperti diduga banyak pengamat, pelaku kekerasan dimaksud tergolong profesional dalam melakukan aksinya sehingga mampu menghilangkan jejak.

Namun kami percaya sehebat apapun pelaku menyembunyikan diri dan barang bukti, suatu saat kejahatan akan terungkap. Semoga. (*)