Tuesday, 25 June 2019

Penyandang Difabel Ini Juga Ingin Berprestasi

Sabtu, 12 Januari 2019 — 1:44 WIB
Muhammad Ichsan Kamil

Muhammad Ichsan Kamil

MESKI menyandang tuna rungu (tidak mendengar, red), namun Muhammad Ichsan Kamil tidak minder bergaul dengan masyarakat normal cukup besar.

Saat kecil, ia sempat sekolah luar biasa (SLB) Santri Rama di Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan. Mulai Taman Latihan setingkat PAUD, Taman Kanak-kanak dan kurikulum delapan tahun Sekolah Dasar.

Namun pendidikan selanjutnya ditempuh di sekolah biasa. Di SMPN 223 Pasar Rebo, Jakarta Timur. Kemudian melanjutkan ke SMAN 79 Tebet, Jakarta Selatan.

Tak lama, Ichsan pun pindah ke sekolah kejuruan teknik komputer jaringan di SMK YPPD Depok, Jawa Barat, mengikuti orang tuanya. Semua pendidikannya dilalui dengan normal.

Kini dia meneruskan pendidikan S1 di Kampus MH Thamrin, Kramatjati, Jakarta Timur. “Saat ini, saya kuliah sambil bekerja. Saya bekerja jadi tenaga honorer dibagian perpustakaan di SMPN 10,” ucapnya.

KOMPETISI

Pemuda kelahiran Mei 1990 itu mengaku tidak mengalami kesulitan berarti dalam berkomunikasi kesehariannya.

“Kalau teman sekolah atau kampus biasa saya membaca gerak bibir memperhatikan kata per kata, Alhamdulillah cepat mengerti,” ujar wakil ketua Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Depok periode 2018-2023 itu.

Hanya memang seringkali jawabannya kurang dimengerti teman atau lawan bicara sehingga perlu dipertegas dengan tulisan whatsapp (WA) atau isyarat tangan bagi yang memahami.

Komunikasi dan luwes pergaulan itupula menyebabkan pemuda kurus tinggi berkacamata minus itu dipercaya dalam kepanitiaan nasional Kompetisi Debat antar-Mahasiswa Tuli ke-1 tahun 2019 yang akan dipusatkan di Perpustakaan Nasional Jakarta pada 24-29 Juni 2019.

Kompetisi memperebutkan piala bergilir ketua umum Gerkatin itu, menurutnya, untuk menumbuhkan rasa kebersamaan dalam prestasi menunjang kiprah komunitas penyandang (difabel) tunarungu dalam pembangunan nasional.

“Kami terus berbuat, dan berbuat, walau seringkali keadaan (difabel) kami diabaikan. Tetapi justru hikmahnya kami berupaya keras untuk berprestasi termasuk dalam kehidupan sehari-hari,” tutur Ichsan. (rinaldi/bi)