Monday, 18 March 2019

Sentimen Agama Tak Pengaruhi Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf

Sabtu, 12 Januari 2019 — 16:05 WIB
Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 01, Joko Widodo  - Ma'ruf Amin. (ist)

Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 01, Joko Widodo - Ma'ruf Amin. (ist)

JAKARTA – Politik identitas masih menjadi komoditas oleh elite-elite politisi. Usai Pilkada DKI Jakarta 2017 silam, cara serupa masih terlihat pada Pemilu 2019. Direktur Eksekutif Indonesia Elections and Strategic (indEX) Research Vivin Sri Wahyuni mengatakan politisasi identitas berbasis agama mencontohkan, saat calon Presiden (capres) Prabowo Subianto tampak menggunakan momentum reuni 212 untuk mendulang dukungan suara.

Di kubu lawan, capres Joko Widodo berbalik menggunakan senjata yang sama untuk menghadang serangan rivalnya. Dimulai sejak terpilihnya Ma’ruf Amin sebagai pasangan calon Wakil Presiden (cawapres), hingga lontaran isu-isu yang menggugat religiusitas Prabowo dan Sandiaga Uno. Puncaknya, muncul desakan untuk menggelar uji baca Al-Quran bagi capres-cawapres.

Meski kencang, nyatanya politisasi agama tidak berpengaruh besar. Temuan lembaga survei Indonesia Elections and Strategic (indEX) Research menunjukkan bahwa elektabilitas Jokowi-Ma’ruf tetap mengungguli pasangan Prabowo-Sandi.

“Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf mencapai 55,6 persen, terpaut lebih dari 20 persen dibanding Prabowo-Sandi yang hanya meraih 32,3 persen. Sisanya sebanyak 12,1 persen tidak tahu atau tidak menjawab,” ungkapnya dalam siaran persnya, Sabtu (12/1/2019).

(BacaSurvei Terbaru, Jokowi-Ma’ruf 54,3 Persen, Prabowo-Sandi 35,1 Persen)

Vivin mengatakan dibandingkan hasil survei sebelumnya pada periode November 2018, elektabilitas kedua pasangan cenderung tidak berubah signifikan. Sebelumnya elektabilitas Jokowi-Ma’ruf sebesar 54,6 persen, sedangkan Prabowo-Sandi 30,6 persen. Responden yang tidak tahu atau tidak menjawab turun dari sebelumnya 14,8 persen.

Meskipun dinilai sudah tidak lagi efektif sebagai strategi politik, Vivin meyakini bahwa politisasi agama tidak akan menghilang. “Perdebatan tentang hubungan agama dan negara sudah setua umur Republik, sudah saatnya wacana tersebut dikelola dengan baik setelah dinamika pasca-reformasi silam,” pungkas Vivin.

(BacaJokowi Marah Profesi Pengemudi Transportasi Online Dihina)

Survei indEX Research dilakukan pada 17-28 Desember 2018, dengan jumlah responden 1200 orang. Metode survei yang dipakai adalah multistage random sampling dengan margin of error ±2,9 persen dan pada tingkat kepercayaan 95 persen. (ikbal/ys)