Monday, 25 March 2019

Berebut Emak-Emak Janda Dua Lelaki Beradu Celurit

Minggu, 13 Januari 2019 — 6:55 WIB
celurit

BUKAN Capres bukan pula Cawapres, tapi Midun, 30, dan Mukidi, 40, dari Lumajang (Jatim) ini berebut emak-emak. Soalnya, biar emak-emak Ny. Atikah, 42, ini masih STNK. Ditambah kondisi mabuk, keduanya pun beradu celurit (caruk). Polisi menghentikan, meski kondisi keduanya dalam kondisi dedel-duel bermandikan darah.

Selama musim kampanye Pilpres-Pileg 2019 ini, emak-emak menjadi komoditas yang menjanjikan. Baik kubu Prabowo maupun Jokowi sama-sama memanfaatkan kalangan emak-emak militan untuk meningkatkan elektabilitas. Disebut militan karena meskipun tak mungkin nantinya dipasang jadi menteri maupun kepala lembaga pemerintah, tetap getol memenangkan Capres No. 01 maupun No. 02.

Di Lumajang, Ny. Atikah warga Tempeh, juga merupakan emak-emak militan sekaligus legitan. Sejumlah lelaki bersaing untuk mendapatkan cinta si janda. Di samping cantik, bodinya sekel nan cemekel, kayaknya janda Atikah ini legitan (saking legitnya – Red) seperti serabi Notosuman, Solo. Tapi maaf, jangan dibandingkan dengan serabi artis yang laku Rp 80 juta itu.

Dari sekian kontestan, yang berhasil masuk final hanyalah Mukidi dan Midun, sama-sama dari Kecamatan Pasirian. Semua memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, sehingga Atikah pun menjadi bingung untuk menentukan pilihan. Apakah perlu pakai debat terbuka, untuk mengetahui isi otak masing-masing, sekaligus mengungkap visi dan misi mereka setelah menjadi suaminya.

Celakanya, meski tak ada lembaga survei sebagai rujukan, keduanya mengklaim sebagai pacar Atikah definitip. Bahkan Mukidi mengaku sudah nikah siri dengan si janda, sebaliknya Midun mengaku pula sudah dapat restu orangtua Atikah berikut jajarannya. Tentu saja keduanya lalu saling mementahkan segala klaim pihak sebelah.

Midun mengatakan, tak ada bukti-bukti cukup bahwa Mukidi sudah nikah siri dengan Atikah. Sebaliknya Mukidi juga menampik bawa orangtua sijanda sudah memberi restu sampai tingkat RT-RW. “Kabar bahwa ada bukti 7 karung surat dukungan hubungan Atikah-Midun, semuanya hoax….” Kata Mukidi.

Demikianlah, Mukidi dan Midun saling serang dan saling menjelekkan kubu sebelah. Lama-lama keduanya menjadi panas. Tambah panas lagi ketika keduanya kres (ketemu) di rumah Atikah. Kalau kresnya KA Gayabaru Malam sama KA Senja Utama, semuanya yang menentukan PPKA (Pimpinan Perjalanan Kereta Api). Tapi kresnya Mukidi – Midun, Atikah sendiri tak mampu meredakan emosi mereka.

Yang sungguh diluar dugaan Atikah, ternyata baik Mukidi maupun Midun sama-sama membawa senjata celurit. Karena tuan rumah tak bisa melerainya, keduanya pun berkelahi sadumuk batuk sanyari bumi (perempuan harus dibela sampai mati). Awalnya masih pakai jurus-jurus tangan kosong, persis tokoh silatnya Kho Ping Ho. Ciaaat, ciaatttt……..

Rupanya keduanya mulai emosi, sehingga Mukidi keluarkan clurit, begitu pula Midun. Hanya dalam beberapa gebrakan, keduanya sudah berdarah-darah kena bacok. Untung polisi segera datang, dan tembakan ke atas sebagai peringatan pun terdengar. Kedunya berhenti. Tapi sudah kadung sama-sama dedel duel.

Keduanya dilarikan ke RSUD Dr Haryoto Lumajang. Kata polisi, kebetulan keduanya memang sama-sama sedang mabok, akhirnya pun sama-sama tak mampu mengendalikan diri. Tak urung janda Atikah ikut diperiksa di Polres Lumajang, meski statusnya masih saksi.

Untung bukan kasus OTT, jadi tak mungkin naik status jadi tersangka. (Gunarso TS)