Friday, 18 January 2019

Buntut Pengeroyokan Santri, MH Terancam Dijemput Paksa

Minggu, 13 Januari 2019 — 12:59 WIB
Kasat Reskrim Polresta Tangerang AKP Gogo Galesung.(imam)

Kasat Reskrim Polresta Tangerang AKP Gogo Galesung.(imam)

TANGERANG – Polisi akan menjemput paksa MH (24), terduga otak penganiayaan seorang santri Pondok Pesantren Al-Wardayani di Kampung Pangodokan Bubulak, Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang.

Korban Ahmad Rifai diketahui dikeroyok oleh sekitar 20 orang pada Jumat (4/1/2019) lalu. Aksi itu dipicu kesalahan pahaman di media sosial. Berawal dari komentar, cekcok pun berlanjut ke dunia nyata.

Kasat Reskrim Polresta Tangerang AKP Gogo Galesung mengatakan, MH diduga kuat merupakan inisiator terjadinya peristiwa penganiayaan itu. Pihaknya juga telah mengantongi sejumlah nama pelaku pengeroyokan terhadap Ahmad Rifai.

“Dugaan bahwa MH merupakan otak pelaku juga berdasarkan keterangan saksi-saksi,” kata Gogo kepada Poskotanews, Minggu (12/1/2019).

Gogo menjelaskan, tim penyidik sudah melayangkan panggilan pertama untuk MH di kediamannya di Pondok Pesantren Assalafiyah Alfutuhiyah, Cipanas Rangkasbitung, Kabupaten Lebak pada Rabu (9/1) lalu. Namun, surat panggilan yang dititipkan ke sekretaris desa itu tidak diterima oleh keluarga MH.

“Tidak ada satu pun keluarga MH mau menerima surat panggilan itu. Akhirnya surat itu dikembalikan ke penyidik,” ungkapnya.

Gogo melanjutkan, penyidik kemudian mengirimkan surat panggilan tersangka yang kedua. Namun, lanjut Gogo, surat panggilan kedua kembali ditolak. Bahkan, kata Gogo, saat penyidik akan menyampaikan surat panggilan kedua itu, pondok pesantren dijaga ketat oleh puluhan santri.

“Tidak ingin terjadi gesekan, surat panggilan kami titipkan ke Kanit Intel polsek setempat,” terangnya.

Gogo menegaskan, apabila tersangka MH kembali tidak menghiraukan surat panggilan, maka penyidik akan menerbitkan surat perintah penangkapan.

“Kami juga akan langsung mengeluarkan surat daftar pencarian orang atau DPO,” ujarnya.

Tidak hanya itu, Gogo mengatakan, penyidik juga akan berkordinasi dengan pihak imigrasi untuk upaya cegah tangkal agar para tersangka tidak melarikan diri ke luar negeri.

“Kami imbau tersangka untuk kooperatif. Jalani proses hukum sebagaimana mestinya,” tandasnya.

Untuk diketahui, peristiwa penganiayaan bermula dari adu komentar di sebuah video di kanal Youtube berjudul ‘Jawaban K.H Abuya Qurtubi tentang pernyataan Buya Muhtadi yang menghina FPI dan Habaib’.

Dari adu komentar itu, korban sempat cekcok dengan salah satu tersangka. Cekcok di media sosial ternyata berlanjut ke dunia nyata. Korban didatangi sedikitnya 20 orang dan mengalami penganiayaan. (imam/tri)