Tuesday, 19 February 2019

Hati Panas, Kepala Dingin

Senin, 14 Januari 2019 — 15:00 WIB

Oleh Harmoko

PEMILIHAN Presiden dan wakilnya juga wakil rakyat di pusat dan daerah tak lama lagi berlangsung. Berbagai calon kampanye, dan pendukungnya saling mempromosikan jagoan masing- masing. Tak jarang, begitu semangat menyampaikan visi misi jagoannya, dan mencela lawannya, argumen terjadi dengan sengit.

Maka, pepatah lama hendaknya diingat oleh semua yang terlibat, “Hati boleh panas, namun kepala harus tetap dingin.”

Bagi sebagian warga dan politisi, Pilpres 2019 kali ini – nampaknya juga sebelumnya – menjadi pertaruhan hidup dan mati. Kelanjutan bangsa kita ke depan, meski para calon yang maju sudah teruji akan tetap memegang ideologi Pancasila, merah putih dan NKRI, dan tetap dalam konsitusi UUD 1945.

Meski demikian, program program yang spesifik yang ditawarkan para calon akan berkaitan dengan kehidupan mereka keseharian. Terutama oleh para pelaku dunia usaha atau bisnis.

Maka sebagian dari mereka, yang tak terlibat adu otot, dan adu sosialisasi, menunggu dan melihat keadaan bagaimana jadinya nanti. Siapa yang akan terpilih dan arah kebijakannya bagaimana.

Bagi pedagang kaki lima mungkin ekonomi makro tidak akan berpengaruh. Siapa saja yang menang, perlu makan di jalan, dan bebas belanja, dan mendapat angkutan yang mudah.

Akan tetapi bagi pelaku bisnis skala besar, tentu beda halnya. Perubahan orientasi ke Timur atau ke Barat akan segera memukul atau mendorong bisnis mereka. Apakah pembangunan infratuktur akan berlanjut atau tidak, akan berpengaruh kepada investasi mereka. Juga dalam kebijakan impor, pedagangan dalam negeri, perpajakan dan lain lain.

Sedangkan bagi rakyat, kita semua, maka kita sama- sama merindukan pemilu yang berkualitas, yang diselenggarakan oleh panitia independen di mana siapa pun yang akan terpilih bisa diterima oleh semua pihak secara legowo. Besar jiwa.

Rakyat sungguh-sungguh memerlukan teladan dari para elite untuk melakukan kampanye yang bermutu dan mudah dipahami, agar mereka tidak salah pilih. Jangan jadikan rakyat sebagai objek janji kosong, dan diadu dengan informasi hoaks, pembodohan, pengelabuan, yang merusak Indonesia dan generasi kita di masa depan. Demi kekuasaan sesaat.

Begitu pun rakyat jangan terjebak hasutan dan provokasi. Jangan karena beda jagoan terjadi perselisihan kemudian merusak persaudaraan (pasaduluran).

Bersemengatlah dalam mendukung para calon. Tapi jangan biarkan kepala panas, sehingga hati tetap dingin. Atau sebaliknya hati panas, kepala tetap dingin, supaya berpikir normal. Waras. (*)