Wednesday, 19 June 2019

Petambak Rugi Jutaan Rupiah Akibat Bibit Udang Vaname Mati Mendadak

Senin, 14 Januari 2019 — 20:53 WIB
Seorang pekerja tambak udang sedang memberi pakan udang vaname. (taryani)

Seorang pekerja tambak udang sedang memberi pakan udang vaname. (taryani)

INDRAMAYU  – Nasib kurang mujur kini tengah dialami para petambak udang di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Bibit udang yang mereka tanam mati mengambang. Penyebab kematian massal tanaman udang jenis vaname itu masih dalam penyelidikan instansi terkait.

Namun para petambak udang di Kecamatan Cantigi mengira, kematian massal tanaman udang vaname itu akibat pengaruh cuaca. “Cuacanya tidak menentu. Dalam sehari terkadang panas terkadang hujan. Ini yang membuat bibit udang mati mendadak,” ujar Sartiman, 43 salah seorang pekerja tambak udang yang dijumpai Pos Kota, Senin (14/1/2019) di Desa Panyingkiran Kidul, Kecamatan Cantigi, Indramayu, Jawa Barat.

Bibit udang yang mati mendadak terutama yang masih berusia di bawah 2 bulan. Umumnya para petani tambak udang  menanam bibit udang dalam usia  di bawah  2 bulan, sehingga para petani tambak banyak yang menderita kerugian.

“Ada beberapa puluh hektar tambak udang yang ditanam lebih awal sehingga usianya ada yang sudah mencapai 3 bulan. Sebagian besar tanaman udang yang sudah berusia 3 bulan ini masih cukup bertahan. Meski begitu,  belum bisa dikatakan tanaman udang vaname itu  selamat dari kematian massal,” katanya.

Sebab, mungkin saja cuacanya lebih ektrem lagi. Yaitu pagi hujan jam 10 sampai jam 12 panas dan jam 3 hujan lagi. Ini  bisa berpengaruh buruk terhadap kondisi udang  vaname yang ada di tambak udang.

Dikatakan, udang vaname sebetulnya termasuk jenis udang yang kuat dan bandel dan doyan makan karena itu pertumbuhannya relatif cepat. Berbeda dengan udang windu yang rentan terhadap serangan virus sehingga mudah mati. Karena  dinilai merugikan para petani tambak,  petani tambak udang di Indramayu sekarang sudah jarang yang menanam udang windu.

Menurut dia, dugaan pengaruh iklmim atau cuaca menjadi penyebab kematian massal bibit udang vaname diketahui ketika pada pagi hari terjadi hujan deras kemudian terang dan tak lama sinar matahari bersinar terik. Beberapa saat kemudian tampak udang-udang itu muncul ke permukaan, seperti  dalam kondisi stres. “Beberapa jam kemudian udang yang stres itu mati  mengambang,” katanya.

Di Desa Panyingkiran Kidul, Kecamatan Cantigi,  umumnya masyarakat memiliki mata pencaharian petani tambak. Tahun ini mereka menanam bibit udang jenis vaname. “Ada ratusan hektar tambak udang milik petani tambak yang sebagian gagal panen,  karena bibit udang berusia muda yang mereka tanam mati mendadak sebelum panen,” katanya.

Para petani menderita kerugian puluhan juta. Ironisnya sebagian besar tambak udang yang mati ini milik petani tambak yang hidupnya pas-pasan dan sangat menggantungkan hidupnya dari hasil panen udang. Setelah tambak udang mereka gagal panen para petani tambak tidak tahu harus berbuat apa.

“Bingung juga setelah bibit udang pada mati, karena tambak udang ini merupakan satu-satunya mata pencaharian harapan para petani tambak kecil,” ujarnya.

Rasmin, 49 petani tambak yang lain menyebutkan, selain pengaruh cuaca yang kurang menguntungkan, seringnya hujan di daerah hulu menyebabkan tingkat keasaman air tambak menurun. “Seringnya turun hujan atau terlalu banyaknya campuran air tawar dari sungai kurang bagus buat tanaman udang di tambak,” ujarnya.

Air pada tambak udang katanya setiap saat harus dijaga agar tingkat keasamannya stabil. “Air asin terlalu banyak masuk tambak udang  enggak baik,  air tawar terlalu banyak masuk tambak juga enggak baik,” katanya. Yang baik itu jika kadar keasaman air tambak normal. Petani tambak menyebut rasa air tambak itu payau, terlalu asin tidak terlalu tawar juga tidak. “Itu yang bagus,” katanya. (taryani/win)