Thursday, 25 April 2019

Lupakan Dunia Persilatan, Bung!

Sabtu, 19 Januari 2019 — 5:17 WIB
silat

MEMBUNUH atau dibunuh. Itu yang terjadi di dunia persilatan dan coboy pada zaman bahela. Kalau ada musuh harus waspada, jangan sampai diserang duluan. Main cepat-cepatan cabut pedang atau pistol dari pinggangg. Memang begitulah zamannya, ketikka hukum sangat lemah atau tak peduli sama sekali dengan kondisi negara ‘antahberantah’ pada kala itu.

Orang membunuh kayaknya biasa saja. Jadi siapa yang kuat, itulah yang menang,dan bakalan bertahan hidup. Atau lebih dari itu bisa jadi jagoan dan memimpin banyak orang. Kehidupannya mereka pun mengandalkan kekuatan fisik untuk menjarah barang milik lawan. Siapa kuat, merekalah yang berkuasa.

Sekali lagi itu dongeng dalam komik atau film. Apakah gaya hidup brutal kayak begitu masih ada di zaman now? Jawabnya samar-samar. Kalau dibilang nggak, buktinya masih ada?

Coba tengok kasus pembunuhan yang terjadi di Ibukota dan sekitarnya, hampir setiap saat terjadi. Di Bogor misalnya, maling motor menembak petani hingga tewas. Sementara, seorang anak Punk tewas di tempat dia ngetem, di Pamulang,Tangsel. Pemuda dengan rambut unik ini, tubuhnya penuh luka tusukan senjata tajam. Mengerikan. Jari putus, daun telinganya pun hilang. Sadislah.

Jika kasus ini belum terungkap, tapi bisa ditebak, biasanya ini soal klise, yakni rebutan lahan tongkrongan, pembagian penghasilan nggak beres, atau bisa juga rebutan cewek? Ya, sekitar itulah.

Nah, kalua begitu benar adanya, maka nggak beda kan dengan gaya para garong dan penyamun zaman bahela? Mereka nggak ada musyawarah. Pokoknya masalah diselesaikan dengan kekerasan. Padahal seharusnya tahu, ini negara hukum. Yang nggak bisa main libas, bunuh saja! Ingat dalam kenyataan, yang menang atau kalah sama rugi. Yang kalah bisa luka atau tewas, sementara yang menang tinggal di penjara.

Begitu, jadi jangan membabi buta. –massoes