Tuesday, 20 August 2019

Peneliti dari LSI Denny JA Ini Beberapa Kali Diancam

Sabtu, 19 Januari 2019 — 0:15 WIB
Adrian Sopa (rizal)

Adrian Sopa (rizal)

MENYUKAI data itulah membuat Adrian Sopa menjadi salah satu peneliti beken di Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA. Nama Adrian Sopa melejit lantaran seringnya menyampaikan hasil rilis di depan ratusan wartawan cetak, on line dan TV.

“Saya penyuka data. Selain memberikan fakta dan informasi, data bisa memberi pengetahuan bahkan pencerahan,” kata pria kelahiran Sukabumi, 9 Juni 1984 ini.

Adrian bergabung dengan LSI sejak 2010. Kini dipercaya memegang klien. Mulai bupati, walikota hingga gubernur. Awal masuk dipercaya juga sebagai pembicara rilis survei nasional LSI.

Adrian hijrah ke ibukota menimba Ilmu di jurusan Ilmu Politik FISIP UI tahun 2003. Ia mengaku tantangan utama peneliti survei adalah update terus menerus perkembangan yang terjadi, baik nasional maupun international.

BACA PERKEMBANGAN

“Ini penting untuk bisa membaca perkembangan zaman. Tantangan selanjutnya bagaimana ikut rembug dalam fenomena tersebut. Jika diamati, setiap rilis survei pasti berujung kepada tawaran solusi terhadap fenomena yang di temukan,” ucap peneliti yang S2 meraih gelar MM Komunikasi Trisakti ini meyakinkan.

Seperti profesi lainnya, manjadi seorang peneliti juga memiliki risiko meski tidak sampai mengancam jiwa. Pernahkah Adrian mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari hasil data survei dirilisnya?

“Beberapa kali saja. saya anggap sebagai bunga-bunga dalam profesi ini. Belum semua bisa melihat bahwa ada ‘nilai suci’ yang dijaga dan dibawa dalam setiap hasil survei,” katanya.
Bagi para kontestan dalam pilkada bupati, walikota dan gubernur menilai hasil survei kerap dinilai kurang menguntungkan. Tapi setelah tahu, niatan survei, Adrian yakin mereka akan berbalik berterima kasih.

Adrian mengakui, tidak sampai ada sesuatu yang dianggap sebagai teror. Tapi tak jarang terjadi debat diskusi yang panas saja baik tatap muka maupun telpon.

TAK MENGERTI

“Diancam beberapa kali dan dilaporkan kepada pihak berwajib. Bully bully, kami anggap sebagai risiko atas profesi ini. mereka ‘tidak mengerti’ saja sehingga melakukan hal tersebut,” kata Adrian.

Ia mengakui menjadi peneliti dengan nama beken tidaklah jatuh gratis dari langit. Tapi juga mengalami suka dan duka. “Sukanya banyak. Sampai lupa duka nya apa. Sukanya karena bisa mendapatkan pencerahan terus menurus,” ucapnya.

Selama melakukan survei sejak era pilkada sendiri sampai pilkada serentak, dirinya sampai lupa sudah sampai ke daerah mana saja melakukan survei.

“Banyak. Ratusan mungkin ya. Apalagi jika dihitung semenjak kuliah dahulu. Saya pernah menjadi surveyor lapangan. Mendatangi rumah-rumah warga di daerah yang pertama kali datang kesana,” paparnya.

Sekarang lebih banyak di belakang meja meskipun sesekali turun untuk spotchek (mekanisme pengawasan), dan juga menjadi nara sumber atas rilis hasil riset. (rizal/bi/st)