Wednesday, 24 April 2019

Setia pada Pancasila

Senin, 28 Januari 2019 — 4:56 WIB

Oleh H. Harmoko

DALAM memaknai ideologi Pancasila kita tidak boleh setengah-setengah. Pancasila adalah rumusan dari bapak- bapak pendiri bangsa – founding fathers- kita dan merupakan warisan kita dalam kehidupan bernegara. Pancasila sudah menjadi landasan, dasar, bahkan ‘ruh’ bangsa Indonesia semenjak bangsa ini merdeka.

Nilai -nilai dari butirannya yang terkandung di dalam sila Pancasila sesungguhnya sudah ada dan dipraktikkan jauh sebelum Indonesia lahir dan merdeka. Sebagai kearifan lokal warga di bumi Nusantara.

Kini Pancasila menjadi perekat di antara perbedaan suku, bahasa, agama dan keyakinan yang begitu beragam dan menyatu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Namun dalam perjalanan kita selalu menghadapi ujian. Perlawanan. Setiap waktu Pancasila menghadapi tantangan. Bukan hanya dari kehadiran nilai- nilai asing, namun juga di kalangan bangsa sendiri. Bahkan dari mereka yang disebut sebagai pakar, ahli, dan pemikir, dengan beragam tafsirnya.

Bagian yang sering dipertanyakan, disalahpahami adalah Pancasila seakan- akan bertentangan dengan agama. Dan di tengah gairah umat untuk mendalami agamanya, Pancasila menjadi pertanyaan dan perdebatan.

Pancasila tidak mungkin bertentangan dengan agama karena Pancasila sama sekali bukan agama. Pancasila bahkan memuliakan agama sebagaimana tercantum dalam sila pertamanya. Ketuhanan Yang Maha Esa.

Pancasila adalah ideologi negara. Hasil kesepakatan dari para pendiri Republik Indonesia dalam berbangsa dan bernegara. Anda tetap menjadi umat dari Tuhan yang Anda yakini, tidak mengimani Pancasila, melainkan menerima Pancasila sebagai pengatur – sebagaimana Anda sebagai pengemudi kendaraan menerima kehadiran polisi lalu lintas. Dia hanya mengatur lalu lintas di jalan agar tertib dan tidak terjadi tabrakan.

Tapi dia tidak menanyakan ke mana tujuan Anda masing- masing. Kecuali bila Anda melanggar rambu- rambu yang dijaganya.

Pada masa awal kelahirannya Pancasila adalah ideologi revolusioner, ideologi yang menentang segala bentuk penindasan dan penjajahan. Ideologi perlawanan terhadap segala hal (bentuk) yang bertentangan dengan nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, kebangsaan, kerakyatan, dan keadilan. Pancasila juga merupakan ideologi atas cita-cita masyarakat.

Setelah perjuangan melawan penjajahan bangsa asing selesai, Pancasila berfungsi sebagai mercusuar yang menjaga republik, dari kekuatan yang memecah belah dari dalam.

Karena itu penting diingat bahwa kesetiaan pada Pancasila dan NKRI dalam kehidupan berbangsa dan bernegara merupakan hal mutlak. Tak bisa ditawar -tawar dan dikompromikan lagi. Karena itu setiap penolakan untuk setia kepada Pancasila patut diduga merupakan naluri dan keinginan untuk membangun ideologi lain yang bertentangan dengan Pancasila di negeri ini.

Kini penting diingatkan lagi bahwa menjiwai Pancasila itu tidak boleh setengah hati. Karena biar bagaimana pun, kelima silanya terangkum menjadi satu kesatuan nilai. Makna Pancasila itu sendiri telah mengandung spirit ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan. Inilah jiwa Indonesia itu, jiwa yang akan menggerakkan kita untuk terus berjuang.

Menjadi tantangan aktual bagi kita semua untuk menghidupkan Pancasila dalam jiwa setiap kita, agar tidak hanya menjadi teks mati di atas kertas atau lembaran menempel di dinding. Dan bukan juga semata- mata hafalan anak sekolah dan bagian dari seremoni belaka.

Kita mewarisi Pancasila dengan nilai-nilainya sebagai ideologi yang hidup, bukanlah semata mata slogan melainkan petunjuk lengkap bagaimana kehidupan sehari hari harus kita dilakukan di negeri ini. (*)