Saturday, 21 September 2019

Motor Masuk Tol di Luar Logika

Jumat, 1 Februari 2019 — 4:50 WIB

WACANA sepeda motor boleh masuk jalan tol dilontarkan Ketua DPR Bambang Soesatyo. Ibarat gayung bersambut, Kepala Korps Lalu Lintas Polri, Irjen Refdi Andi setuju dengan wacana tersebut dengan alasan bisa menekan kecelakaan. Setali dua uang, Menteri PUPR Basuki Hadimoeldjono juga menyambut baik usulan tersebut karena ada regulasinya.

Ide tersebut jelas menuai pro dan kontra dan menuai kontroversi. Banyak publik yang menolak, menilai wacana tersebut sebagai ide ngawur dan di luar logika karena dampak negatifnya akan lebih besar dibanding manfaatnya. Tak sedikit yang curiga ada udang di balik batu di balik wacana tersebut. Jangan-jangan tujuannya hanya untuk mendongkrak pendapatan pengelola tol, atau kebijakan yang dianggap pro rakyat.

Membolehkan kendaraan roda dua melintas di tol, analisis mendalam. Pertama, potensi kecelakaan justru lebih besar terjadi karena infrastruktur Tol Dalam Kota, Tol Jakarta Merak, Tol Cikampek dan tol lainnya dibangun hanya diperuntukkan bagi kendaraan roda empat dengan ketentuan kecepatan minimal 60 Km/jam.

Berbeda dengan Tol Suramadu atau Tol Bali Mandara yang sejak awal didesain ada jalur khusus sepeda motor terpisah dengan lajur kendaraan roda empat. Sementara di ruas tol lainnya tidak disediakan lajur roda dua. Lalu, lajur mana yang akan dipakai ? Apakah bahu jalan di tol akan diubah menjadi lajur motor? Ini tentu sangat berisiko karena selain tidak ada pembatas, lajur bahu jalan diperuntukkan bagi kondisi darurat seperti kendaraan mogok, mobil derek, serta mobil patroli.

Kedua, potensi kemacetan lalu lintas. Jalan tol adalah jalan berbayar bebas hambatan. Sehari-hari terutama pada jam sibuk pagi dan sore, volume kendaraan di Tol Dalam Kota sangat tinggi hingga terjadi kemacetan. Terlebih sejak ada kebijakan ganjil genap, mobil pribadi lebih banyak melewati jalan tol. Bisa dibayangkan kusutnya lalu lintas di jalan yang katanya bebas hambatan bila motor juga boleh melintas.

Pertumbuhan sepeda motor di Jabodetabek dari tahun ke tahun memang terus meningkat. Tahun 2018, jumlah kendaraan roda dua mencapai 14.871.281 unit atau naik hampir 800 ribu unit dibanding 2017. Kecelakaan lalu lintas juga didominasi sepeda motor. Data di Mabes Polri, tahun 2018 terjadi 103.672 kecelakaan dan 73 persen melibatkan sepeda motor. Artinya, kecelakaan lalu lintas menjadi pembunuh terbesar di negeri ini.

Tetapi dengan membolehkan motor melintas di jalan tol dengan alasan mengurai kemacetan dan menekan kecelakaan rasanya di luar logika. Bisa jadi yang terjadi sebaliknya, insiden kecelakaan justru meningkat. Itu sebabnya wacana motor masuk tol harus dikaji mendalam. Jangan sampai kebijakan tersebut sama saja membiarkan ‘pembunuhan’ di jalan raya serta merampas hak pengendara terbebas dari kemacetan. **