Tuesday, 23 April 2019

Empat Penyakit Menular Seksual ‘Super’ Baru Dikhawatirkan Ahli

Rabu, 6 Februari 2019 — 19:58 WIB
Seks oral kemungkinan adalah cara penularan utama Neisseria meningitides yang dapat mematikan.

Seks oral kemungkinan adalah cara penularan utama Neisseria meningitides yang dapat mematikan.

PENYAKIT baru muncul setiap waktu, demikian juga dengan infeksi penyakit seksual menular.

Berikut empat bakteri yang dapat menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.

1. Neisseria meningitidis
Neisseria meningitidis, sering kali disebut sebagai meningococcus dapat menyebabkan meningitis, infeksi otak dan selaput pelindung syaraf tulang belakang yang dapat mematikan.

Pada umumnya, hal ini dipandang menjadi penyebab infeksi urogenital.

Sebuah kajian tahun 1970-an menggambarkan bagaimana simpanse jantan terkena infeksi urethra setelah memindahkan bakteri dari hidung dan tenggorokan ke penisnya lewat auto-fellatio.

“Binatang ini sering kali melakukan kontak alat kelamin-mulut sendiri,” kata penulisnya.

Sekitar lima sampai 10% orang dewasa membawa Neisseria meningitidis di bagian belakang hidung dan tenggorokan.

Sejumlah kajian mengisyaratkan hal ini berkemungkinan menularkan bakteri ke partner lewat seks oral, ciuman intim atau bentuk lain kontak intim yang menularkan titik kecil infeksi.

Peneliti tidak yakin jenis jalur penularan yang menyebabkan wabah bentuk serbuan penyakit di antara pria gay dan biseksual di Eropa, Kanada dan Amerika Serikat.

Meskipun demikian, sebuah kajian urethritis yang disebabkan Neisseria meningitidis pada kelompok pria yang terpisah (semuanya, kecuali satu orang, adalah heteroseksual) mengisyaratkan mereka mendapatkannya saat menerima seks oral.

Para ilmuwan yakin jenis yang terjadi di sejumlah kota AS pada tahun 2015 memiliki DNA lewat rekombinasi genetik dengan kerabat dekatnya, Neisseria gonorrhoeae, penyebab gonore.

Mutasi ini memungkinkan infeksi penularan seksual yang menyebar dengan lebih efisien.

Lima jenis Neisseria meningitidis menyebabkan sebagian besar infeksi di dunia; tetapi terdapat dua vaksin yang dapat memberikan semacam perlindungan pada ke lima jenis ini.

2. Mycoplasma genitalium

Mycoplasma genitalium, salah satu bakteri terkecil, menjadi terkenal lewat nama STI.

Diidentifikasi pada tahun 1980-an, bakteri ini sekarang menginfeksi sekitar satu sampai 2% penduduk dan terutama ditemui pada remaja dan orang muda.

Infeksi mycoplasma genitalium, meskipun sering kali tanpa gejala, dapat menyerupai klamidia atau gonore dengan iritasi berlanjut pada urethra dan serviks.

Karena hal ini dapat memicu penyakit pembengkakan panggul pada sistem reproduksi perempuan, bakteri ini juga dikaitkan dengan ketidaksuburan, keguguran, kelahiran dini dan bahkan bayi dilahirkan dalam keadaan meninggal.

Meskipun kondom dapat membantu pencegahan infeksi, pada peneliti mengkhawatirkan peningkatan penolakan Mycoplasma genitalium terhadap penanganan dengan menggunakan antibiotika azithromycin dan doxycycline.

“Kekhawatiran saya terkait dengan mikroorganisma ini adalah karena semakin menunjukkan penolakan, maka hal ini akan lebih banyak terjadi,” kata Matthew Golden, direktur Public Health Seattle dan King County HIV/STD Program.

Pengujian tambahan dapat membantu pencegahan munculnya superbug Mycoplasma genitalium.

Meskipun demikian, metode diagnosa yang telah tersedia berdasarkan tes urine dan serviks atau vagina, masih jarang dilakukan dan masih belum lolos hambatan peraturan AS.

3. Shigella flexneri

Shigellosis (atau disentri Shigella) ditularkan lewat kontak langsung atau tidak langsung dengan kotoran manusia.

Infeksi menyebabkan keram perut parah dan diarea berdarah dan bernanah, yang membantu berlanjutnya penularan bakteri.

Meskipun penyakit ini biasanya dikaitkan dengan anak kecil dan orang yang melakukan perjalanan di negara berpenghasilan rendah dan menengah, para peneliti mulai mencatat kasus shigellosis pada pria gay dan biseksual di tahun 1970-an.

S. flexneri, para peneliti yakini, pada dasarnya adalah bentuk baru penularan lewat seks oral dan anal, dan menyebabkan sejumlah STI di dunia sejak saat itu.

Demetre Daskalakis, wakil komisaris New York City Department of Health and Mental Hygiene, mengatakan STI dengan cepat tidak dapat ditangani lewat azithromycin, yang juga digunakan untuk mengobati gonore.

Karena badan kesehatan masyarakat mengkhawatirkan kemungkinan Shigella memicu munculnya super bug gonore, dia mengatakan, banyak pihak menerapkan strategi pengobatan beragam.

Bagi warga dewasa yang bisa dibilang sehat, para ahli sekarang mengusulkan untuk menahan penggunaan antibiotika dan membiarkan shigellosis.

4. Lymphogranuloma venereum (LGV)

STI, disebabkan jenis Chlamydia trachomatis tidak biasa dan dapat menyebabkan “infeksi serius”, menurut Christopher Schiessl, seorang dokter pada klinik One Medical di San Francisco.

LGV kemungkinan pada mulanya menimbulkan jerawat sementara atau luka pada alat kelamin, yang kemudian memasuki sistem limpa tubuh.

Infeksi rektal dapat menyerupai pembengkakan penyakit lambung dan menyebabkan ketidaknormalan usus dan rektal kronik dan serius seperti fistula dan stricture.

Dalam sepuluh tahun terakhir, LGV menjadi semakin umum di Eropa dan Amerika Utara, dan dikaitkan dengan wabah sejumlah penyakit, terutama di antara pria gay dan biseksual.

Sama seperti klamidia, LGV dapat meningkatkan risiko terkena HIV.

Penggunaan kondom saat melakukan hubungan seks dapat mengurangi risiko infeksi, sementara pengobatan LGV kemungkinan memerlukan penggunaan antibiotika seperti doxycycline selama tiga minggu. (BBC)