Sunday, 17 February 2019

Pers Nasional

Kamis, 7 Februari 2019 — 5:00 WIB

Oleh H. Harmoko

INFORMASI, dalam berbagai bentuknya, kini terus membanjiri masyarakat. Seperti bah, bahkan ada yang menyebutnya sebagai tsunami – yaitu “tsunami infomasi”. Tak kenal waktu, setiap saat, 24 jam nonstop – dalam jumlah yang sangat besar, menggelombang. dengan berbagai bentuknya.

Masa-masa romantis duduk di teras, di pagi hari, membaca suratkabar sembari minum teh atau kopi telah menjadi kenangan, bagi sebagian besar warga kita, di sini dan di seluruh dunia. Bahkan juga mereka yang gemar menonton siaran televisi, atau mendengar radio. Sebab, informasi yang dibutuhkan – atau tidak dibutuhkan – sudah masuk ke gawai, di genggaman tangan yang bahkan bisa dibaca dan diakses selagi masih tidur-tiduran.

Teknologi berkembang pesat, gaya hidup terus berubah, menyesuaikannya dengan kecepatan kilat, demikian juga media-media yang meyebarkan informasinya.

Meski demikian berlaku hukum dalam ilmu sosial, bahwa “90 persen dari segala yang ada sesungguhnya tidak dibutuhkan”. Bahkan sampah.

Dan kita merasakan juga, yang beredar di berbagi aplikasi media sosial, sebagai media informasi terbaru, sering kali tidak diperlukan, sampah, bahkan racun yang berpotensi negatif, menimbulkan konflik, karena disebarkan nyaris tanpa filter.

Kabar bohong, fitnah, maupun berita yang tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya, banyak beredar dan dipercaya sebagai suatu kebenaran.

Masyarakat makin kesulitan mempercayai, mana berita nyata dan palsu. Mana rekayasa, dan kejadian yang sungguh- sunguh terjadi. Kelompok rentan informasi hoax pun semakin kabur, sebab sebagian kalangan elite sosial, elite pendidikan dan ekonomi pun mudah terkena. Tertipu hoax.

Harapan kita adalah masyarakat tidak mudah percaya pada informasi-informasi yang diterima. Lalu melakukan konfirmasi, cek dan ricek, crosscek, mencari penegasan atas keyakinannya atau ‘afirmasi’ lewat media massa kredibel, khususnya surat kabar dan media ‘klasik’ lainnya, yang digarap profesional dengan pengalaman terbit operasi puluhan tahun.

Hal ini menjadi jalan agar masyarakat tidak mudah percaya pada kabar bohong sebagai fenomena di era digital saat ini.

Di sini kehadiran pers dan komunitas jurnalis sangat diperlukan. Karena pers, terutama yang terbit sejak sebelum era internet muncul, dikerjakan para jurnalis handal, akan mengirimkan tenaga profesional, terlatih, ke lapangan, guna melakukan penelusuran, konfirmasi, kepada sumber kompeten atas adanya berita yang sedang beredar dan menarik perhatian dan mendapat perhatian publik. Dan penulisan serta pelaporannya melalui kaidah kaidah tertentu, dengan editing ketat serta pengawasan berjenjang.

Media massa “tradisional” seperti surat kabar, majalah, bahkan radio dan telvisi, sedang mengalami masa- masa kelesuan, mendung, akibat pesatnya kemajuan teknologi informasi, khususnya internet dan maraknya berbagai aplikasi media sosial.

Akan tetapi jurnalisme tidak. Karena yang berubah hanya medianya, tidak dengan jurnalistik, jurnalis, dan jurnalismenya.

Jurnalistik, jurnalis, dan jurnalisme memastikan informasi yang disebarkan untuk publik didapat dengan cara- cara profesional, berbasis ilmu, dan pengalaman panjang. Dengan tetap berpedoman kepada kaidah Kode Etik Jurnalistik dalam menjalankan tugas profesionalnya.
Dengan seleksi ketat, mana yang layak beredar, untuk diketahui umum dan mana yang tidak, sehinga masyarakat lebih nyaman dalam mengaksesnya. (*)