Tuesday, 19 February 2019

Ketua PSI Risau Lantaran Kaum Nasionalis Diam Soal Intoleransi

Senin, 11 Februari 2019 — 21:19 WIB
Ketua Umum PSI, Grace Natalie pada Festival 11 Yogyakarta. (ist)

Ketua Umum PSI, Grace Natalie pada Festival 11 Yogyakarta. (ist)

JAKARTA – Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie mengkritik kaum Nasionalis di Indonesia yang tidak pernah buka suara mengenai kasus intoleransi yang terus terjadi belakangan ini. Hal ini disampaikan pada Festival 11 Yogyakarta, di Graha Pradipta Jogja Expo Center, Senin (11/2/2019).

Dalam pidato politik yang berjudul “Musuh Utama Persatuan Indonesia”, Grace mengingatkan akan bahayanya fenomena normalisasi intoleransi yang ditandai dengan masyarakat yang semakin menganggap intoleransi sebagai sesuatu yang normal.

“Dalam menghadapi gelombang yang semakin besar, kaum Nasionalis-Moderat di partai politik, lebih memilih cara aman, agar lolos dari stigma anti-umat, demi kepentingan elektoral semata,” tandasnya di hadapan sekitar 2.000 peserta yang terdiri dari pengurus, kader, dan simpatisan PSI.

Grace menganggap intoleransi merupakan ancaman bagi persatuan masyarakat sehingga harus diperjuangkan secara bersama-sama. Namun menurutnya tidak ada partai politik mana pun yang berani angkat bicara.

“Tidak ada protes dari satu partai politik kecuali PSI, ketika ada perayaan keagamaan diserang, ketika ada tempat ibadah ditutup paksa, ketika massa membakar rumah di mana Ibu Meliana sedang berada di dalamnya. Ke mana mereka ketika Ibu Meliana dimasukkan ke penjara? Tidak cukup suara menentang itu semua, karena kita mulai menganggapnya sebagai hal biasa. Inilah normalisasi intoleransi!” tegas Grace.

Dikatakan Grace, belakangan ini banyak yang mempertanyakan sikap PSI yang selalu berbicara tentang isu-isu sensitif. Menurutnya, di situlah posisi PSI yang akan tetap memperjuangkan toleransi apapun resiko politiknya.

“PSI didirikan atas kecemasan terkait meluasnya intoleransi di negeri ini. Itulah alasan mengapa salah satu perjuangan pokok PSI adalah melawan intoleransi di tengah bungkamnya para kaum nasionalis-moderat bangsa,” pungkas dia.(ikbal/b)