Thursday, 25 April 2019

Pasar Jaya Bukan Sekadar Profit

Senin, 11 Februari 2019 — 6:05 WIB

PERUMDA Pasar Jaya termasuk Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pemprov DKI Jakarta yang sehat. Potret itu bisa disimpulkan dari pendapatan yang diperoleh setiap tahunnya.
BUMD yang sebelumnya bernama PD Pasar Jaya ini, pada 2019 menargetkan pendapatan Rp1,1 triliun. Target ini naik bila dibandingkan realisasi pendapatan sepanjang 2018 yang mencapai Rp940 miliar.

Setiap tahun BUMD milik Pemprov DKI Jakarta itu menunjukkan kenaikan pendapatan yakni mulai dari Rp500 miliar pada 2016 lalu naik menjadi Rp700 miliar pada 2017.

Selain menyewakan kios pasar, meroketnya pendapatan juga diperoleh dari bisnis distribusi pangan dengan membangun pusat ritel di sejumlah tempat serta bisnis properti.
Melambungnya pendapatan Perumda Pasar Jaya tentu saja membanggakan. Di saat banyak BUMD terseok-seok memenuhi target, tetapi pendapatan Perumda Pasar Jaya justru saban tahun naik.

Hanya saja Perumda Pasar Jaya janganlah berpuas diri. Kenapa? Karena saat ini masih banyak kios maupun pasar yang ada di bawah kendalinya sudah tidak layak.

Berdasarkan catatan, sampai dengan akhir Desember 2018, tak kurang 15 ribu kios dari 120 ribu kios milik Perumda Pasar Jaya kosong. Kondisi bangunan pasar yang rapuh karena berusia uzur dan pelataran becek membuat kios tersebut sulit dipasarkan.

Kios-kios yang uzur dan sudah tak layak membuat warga ogah berkunjung ke pasar tradisonal bersangkutan. Bila pekerjaan rumah (PR) ini bisa segera diatasi tentu saja bisa mendongkrak pendapatan.

Pendapatan, keuntungan atau profit memang sudah seharusnya diburu Perumda Pasar Jaya. Namun sebagai perusahaan daerah, Perumda Pasar Jaya tidak boleh melupakan tugas dan fungsi yang dibebankan.

Tugas dan fungsi itu yakni melaksanakan pelayanan umum dalam bidang pengelolaan area pasar, membina pedagang pasar, ikut membantu stabilitas harga, terutama harga pangan maupun kelancaran distribusi barang dan jasa.

Artinya bagi Perumda Pasar Jaya tidak cukup hanya sekadar mengejar profit dan bangga dengan pendapatan yang berlimpah saja. Sebab, sebagai BUMD harus mampu pula menjaga harga bahan pangan tidak melonjak, sehingga ibu rumah tangga tidak berteriak, “Harga Sembako Mencekik”. @*