Saturday, 23 February 2019

Pemilik Ruko Pasar Induk Kramatjati Menjerit

Senin, 11 Februari 2019 — 23:19 WIB
Pasar Kramatjati

Pasar Kramatjati

JAKARTA – Pemilik rumah toko (ruko) di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, menjerit. Lantaran mereka diharuskan membayarkan Biaya Pengelolaan Pasar (BPP) yang besarannya mencapai Rp7 juta perbulan.

Besaran biaya tersebut, diungkapkan Nico, 41, salah satu pemilik ruko meningkat sekitar empat kali lipat. Pasalnya, sebelum dikeluarkan edaran, pemilik ruko hanya membayar Rp1,7 juta. “Ini sangat tidak wajar. Ini sama saja mau bikin bangkrut usaha kami,” kata Nico, Kamis (11/2).

Menurut Nico, tingginya harga yang ditetapkan itu dinilai tak sesuai dengan apa yang selama ini didapat. Pasalnya, kondisi pasar saat ini semakin semrawut. “Alasannya bayar Rp7 juta untuk memperbaiki kondisi yang ada. Cuma nilainya tinggi sekali, kami semua tidak akan bayar,” tegasnya.

Dikatakan Nico, saat ini di Pasar Induk Kramat Jati ada 300 pemilik ruko yang mengaku keberatan dengan ketetapan tersebut. Mereka mengaku akan melaporkan masalah ini ke Gubernur DKI Anies Baswedan karena dinilai merugikan.

TAHAP SOSIALISASI

Terkait hal itu, Asisten Manager Keuangan Pasar Induk Kramatjati, Fahrudin mengatakan BPP untuk ruko baru tahap sosialisasi. Pada tahap tersebut, menurutnya pihaknya tengah menampung semua masukan dari para pedagang. “Itu belum kami terapkan, masih terus kita kaji,” ujarnya.

Fahrudin mengaku akan menampung semua usulan dari para pedagang dan selanjutnya akan melakukan evaluasi lebih jauh. Meski begitu, ia mengaku kenaikan BPP Ruko sudah sesuai dengan surat keputusan (SK) khusus dan berbeda dengan SK tempat usaha lain. “Ini masih sosialisasi, jadi belum kita berlakukan. Tentu kami akan menampung semua masukan dari para pedagang dan mencari solusi yang tepat,” ungkapnya.(ifand/ruh)