Saturday, 23 February 2019

Pengamat: Jokowi Sebut Propaganda Rusia, Itu Senjata Makan Tuan

Senin, 11 Februari 2019 — 0:43 WIB
Pangi Syarwi Chaniago, aAnalis politik .

Pangi Syarwi Chaniago, aAnalis politik .

JAKARTA – Presiden Jokowi melontarkan pernyataan sebagai ekspresi kejengkelan atas serangan dan tudingan kepada dirinya. Jokowi menyebut ada pihak yang sedang melancarkan ‘Propaganda Rusia’. Hal itu dinilai tidak etis dan bisa menjadi senjata makan tuan, karena kedua belah pihak jangan-jangan melakukan.

Hal itu diungkapkan pengamat politik dari UIN Pangi Sarwi Chaniago, Analis Politik Sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Minggu (10/2/2019).

“Bila kita cermati ‘Propaganda Rusia’ sebagaimana yang dimaksudkan di atas dengan penyebaran secara massif kebohongan/dusta/hoax tidak bisa dituduhkan hanya kepada satu kelompok/kubu saja. Dugaan kita, jangan-jangan kedua kubu melakukan hal yang sama, sama sama pernah pakai konsultan asing, sama sama menyemburkan hoax, sama-sama menyebarkan fitnah. Sangat naif rasanya menganggap kelompoknya paling bersih dari penyebaran berita bohong, lalu menuduh kelompok lain sebagai pelaku tunggal,” kata Pangi, kepada media, Minggu.

Sebelumnya, saat kampanye di Jawa Tengah, Jokowi menyebut ada pihak-pihak yang menggunakan jasa konsultan politik dari luar negeri untuk Pemilu 2019. Konsultan politik itu disinyalir menjalankan strategi ‘Propaganda Rusia’.

Teori Propaganda Rusia yang dimaksudkan presiden adalah strategi yang dilancarkan dengan semburkan dusta sebanyak-banyaknya, semburkan kebohongan sebanyak-banyaknya, semburkan hoaks sebanyak-banyaknya, sehingga rakyat jadi ragu.

Capres petahana ini tidak terima dengan tudingan ‘antek asing’ yang selalu dialamatkan kepada dirinya sejak beberapa tahun terakhir. Jokowi balik menyerang dengan mempertanyakan siapa sesungguhnya yang antek asing dengan menuding kelompok lain menggunakan konsultan luar negeri dengan strategi ‘Propaganda Rusia’.

Menurut Pangi, tuduhan ‘Propaganda Rusia’ juga sangat tidak etis apalagi menyeret-nyeret nama negara lain, alangkah lebih baik dan bijak jika menggunakan terminologi lain yang tidak bertendensi menyinggung negara tertentu, sedikit memicu menaikkan eskalasi hubungan diplomatik hubungan baik antara Indonesia dengan Rusia.

“Penggunaan istilah/diksi ini secara serampangan dan sedikit membabi buta menunjukkan rendahnya etika kita sebagai sebuah negara dalam pergaulan internasional. Sampai-sampai pemerintah Rusia merasa perlu untuk melakukan klarifikasi terkait tuduhan tersebut,” katanya.

Menurut Pangi, sikap Jokowi disebut sedikit nampak ceroboh, dan ini tentu akan merusak citra negara kita dalam pergaulan dunia internasional, apalagi jika yang mengucapkan adalah calon presiden yang statusnya masih menjabat sebagai presiden.

“Sebagai presiden beliau semestinya menjaga etika dan tatakrama pergaulan internasional untuk menjaga marwah dan kepentingan nasional negara kita (national interest). Jangan sampai motif politik sesaat menjadikan Indonesia dipandang rendah dalam pergaulan internasional,” ujarnya.

Sebagai presiden yang masih menjabat, lanjut dia capres petahana mesti memperhatikan dan mempertimbangkan hal ini, termasuk juga menertibkan, mendisiplinkan anggota dan tim suksesnya agar supaya tidak asal bicara, kalau kemudian tim sukses blunder dan membuat polemik, lebih baik di parkir dulu sampai pilpres selesai, sebab sayang sekali, tim Jokowi belakangan banyak melakukan blunder politik, tuduhan serampangan, yang tidak menguntungkan secara elektoral.

“Namun, kita ingin memberikan konteks soal saling tuding antek asing, saling sindir antek asing, nyanyian antek asing, anehnya kedua paslon sama-sama tidak mengaku pakai konsultan antek asing, sehingga konsultan antek asing menjadi hantu yang ditakuti,” kata Pangi.

Ditandaskannya, kita ingin menjadi bangsa yang mandiri, mengurangi ketergantungan pada asing, sama-sama tidak menginginkan ada konsultan asing yang tahu banyak elite politisi Indonesia, terlalu campur tangan politik Indonesia, walaupun tidak ada aturan yang melarang.

“Sederhana sebetulnya, masing-masing paslon tinggal buktikan saja ke publik semua tuduhannya tersebut, sampaikan dengan didukung data yang kuat soal paslon yang mengunakan konsultan asing,” ujarnya. (*/win)