Friday, 26 April 2019

Pria Ini Mencuri Rp544 juta Uang Ibunya untuk Mendapatkan Miliaran

Selasa, 12 Februari 2019 — 7:58 WIB
Andrew mengatakan meskipun telah menghasilkan miliaran dia tetap ambisius.

Andrew mengatakan meskipun telah menghasilkan miliaran dia tetap ambisius.

INGGRIS- Acara mingguan BBC, The Boss, menampilkan beberapa pemimpin dalam dunia usaha. Pekan mendatangkan wirausahawan teknologi, Andrew Michael.

Ketika Andrew berumur 17 tahun dia mengubah kehidupannya dengan membelanjakan £30.000 atau Rp544 juta dari kartu kredit ibunya tanpa sepengetahuannya.

Peristiwa itu terjadi pada 1997, saat dia masih tinggal di rumah ibunya di Cheltenham, Inggris barat. Apa motifnya? Peluang bisnis.

Andrew bermaksud membuat situs internet dengan seorang teman sekolah setelah menyadari bahwa hanya sedikit perusahaan jasa pembuatan laman internet yang menyasar usaha kecil dan menengah atau masyarakat awam.

“Semua perusahaan pembuat laman internet di Inggris saat itu menargetkan perusahaan yang jauh lebih besar,” kata Andrew yang sekarang berumur 39 tahun.

“Tetapi kami melihat bahwa bisnis kecil dan perseorangan menginginkan sesuatu yang dapat dilakukan sendiri dan mudah digunakan.”

Karena itulah dia dan temannya memutuskan memenuhi kebutuhan pasar dan mendirikan perusahaan pembuatan laman internet dan aplikasinya bernama Fasthosts.

“Kami memiliki komputer yang kami perlukan di kamar tidur saya di rumah ibu dan menciptakan perangkat lunaknya sendiri,” katanya.

“Tetapi yang benar-benar kami perlukan adalah sambungan internet berkecepatan tinggi, yang pada masa itu luar biasa mahal. Biayanya sekitar £30.000, dan kami tidak mempunyai uang.”

Karena tidak memiliki pilihan lain, Andrew menggunakan kartu kredit ibunya dan memesan perbaikan internet. “Kami memesannya di telepon,” katanya.

Mereka juga memasang sejumlah iklan di majalah.

Mereka mengira bisnis tersebut akan sukses pada bulan pertama sehingga mampu membayar tagihan kartu kredit. Ternyata perkiraan itu jitu.

“Pada akhir bulan kami memiliki cukup pelanggan dan dana untuk membayar sambungan internet dan iklan,” kata Andrew.

Dan yang lebih penting lagi, ibu Andrew memaafkannya.

Saat temannya masuk bangku kuliah, Andrew membatalkan rencananya sendiri mendapatkan pendidikan tinggi demi memusatkan perhatian pada Fasthosts yang sedang berkembang.

Selang sembilan tahun kemudian, Andrew menjual usahanya itu senilai £61,5 juta atau Rp1,1 triliun.

Karena memiliki 75% saham perusahaan, Andrew yang saat itu baru berumur 26 tahun, mengantongi £46 juta atau Rp834 miliar.

Dua tahun kemudian Andrew mendirikan perusahaan penyimpanan data di cloud bernama Livedrive.

Belakangan dia menjual perusahaan itu dengan nilai yang tak diungkapkan ke publik, namun diyakini berjumlah puluhan juta pound.

Sukses dalam bisnis, Andrew menjadi berita utama koran karena gemar menyelenggarakan pesta mewah.
Pesta Natal di Fasthosts, misalnya, menampilkan Girls Aloud, Sugababes dan The Darkness, dengan pembawa acara Jonathan Ross.

Dia mengakui pernah membayar penyanyi R&B AS , Usher, untuk pentas pada pesta ulang tahun pacarnya.

“Saya senang berpesta. Saya suka menghibur orang,” katanya. “Saya tidak melakukan berbagai hal dengan setengah-setengah.”
Dilahirkan di Siprus tetapi dibesarkan di Cheltenham, Andrew mengaku mendapatkan tenaga dan minat bisnis dari ayahnya.

“Ayah saya datang dari Siprus dan dia adalah seorang pengusaha kecil,” katanya.

“Seperti kebanyakan warga Siprus, dia membuka toko ikan dan kentang goreng serta kafe. Masa kecil saya banyak dihabiskan dengan mengunjungi tempat seperti itu, mengumpulkan pemasukan dan membicarakan ide bisnis.

“Dari masa kecil saya sudah memiliki sifat berdagang, mendapatkan uang dan aktif bekerja.”

Melihat ke belakang tentang bagaimana dia mengembangkan Fasthosts, Andrew mengatakan dirinya “sangat fokus” dan “mengesampingkan hal-hal yang tidak penting”.
Pengamat teknologi independen Chris Green mengatakan: “Fasthosts adalah contoh klasik inovasi komputer yang bermula di kamar tidur, hal yang sangat baik dilakukan Inggris pada 1980-an dan 1990-an.

“Tidak hanya ini merupakan keberhasilan instan bagi Andrew Michael yang berusia 17 tahun, tetapi ini juga menyederhanakan proses mencatat nama domain dan mengakses pembuatan laman internet bagi banyak orang.

Ke depan, Andrew mengatakan dia masih memiliki banyak ambisi.

“Saya adalah jenis orang yang, semakin banyak hal yang saya miliki, semakin banyak yang saya inginkan. Dan meskipun dua bisnis pertama saya berhasil, saya tidak memandang diri saya sebagai seseorang yang sangat berhasil.” (BBC)