Sunday, 25 August 2019

Jika Bisa Membunuh Lawan, Anggota Geng Motor ‘Naik Kelas’

Rabu, 13 Februari 2019 — 22:16 WIB
Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat, AKBP Edi Suranta Sitepu, didampingi Wakasat Kompol Agung Wibowo dan Kanit Krimum, AKP Rulian Syauri menunjukkan barang bukti sajam (ilham)

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat, AKBP Edi Suranta Sitepu, didampingi Wakasat Kompol Agung Wibowo dan Kanit Krimum, AKP Rulian Syauri menunjukkan barang bukti sajam (ilham)

JAKARTA – Begal sadis yang merampok remaja pengendara motor hingga tewas ternyata dilakukan oleh geng motor remaja. Ahmad Al Fandri, 23, tewas di Jalan Tubagus Angke arah Pesing, Grogol Petamburan, Jakarta Barat dengan luka sobek di pinggang kiri hingga usus dan hatinya terburai.

Dari hasil penyelidikan, 14 orang anggota geng motor, enam diantaranya pelajar dicokok di sejumlah tempat di kawasan Kembangan, Jakarta Barat.

Sebelum konvoi dan menyerang sejumlah pengendara pelaku lebih dulu kumpul di kawasan Basmol, Kembangan, Jakarta Barat. Mereka kemudian minum meminum keras (miras) dan menkonsumsi tramdol.

“Setiap minggu dan menjelang libur mereka berkumpul, keliling jalanan Jakarta. Melakukan tawuran sampai adanya korban,” kata Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat, AKBP Edi Suranta Sitepu, Rabu (13/2).

Edi melanjutkan, usai mendapat laporan pengendara motor tewas dirampok, pihaknya langsung memeriksa sejumlah saksi dan olah tkp. Ke 14 pelaku, diantaranya, delapan remaja, yakni, Feri Syahputra, Ahmad Reza, Wiratama, Aditya Syah alias Jawa, Sugi, Warno alias Gembel, Baikal, dan Ahmad Reza. Serta enam anak bawah umur, In, En, AS, FT, Ja, dan MR. “Mereka berasal dari delapan kelompok geng terpisah,” ucap Edi.

Hingga kini, polisi masih melakukan pemeriksaan demi memburu tiga pelaku lainnya, yakni Ma, Ak, dan Ki yang kini masuk daftar pencarian orang (DPO). Dari tersangka polisi menyita berbagai macam senjata tajam.
Edi melanjutkan sebelum beraksi para tersangka kumpul di kawasan Basmol, Kembangan, Jakarta Barat sambil mengonsumsi miras dan tramdol. Hal ini membuat mereka lebih berani. Aksi menantang kerap dilakukan pelaku dengan mengajak sejumlah kelompok lain untuk tawuran hingga jatuh korban jiwa. Bila korban belum jatuh, kelompok tidak akan pulang. “Mereka selalu live melalui medsos seperti Instagram,” tukasnya.

Dengan dokumentasi itu, tersangka kemudian menjadi naik tingkat. Mereka akan dikenang sejumlah teman temannya sesama kelompok genk motor. Bahkan ketika ada yang keluar penjara, mereka akan menjadi ‘tank’ atau panglima perang. Hasil tes urine yang dilakukan polisi, Edi mengungkapkan beberapa pelaku diketahui positif canabies sativa atau ganja.

Kanit Krimum Polres Metro Jakarta Barat, AKP Rulian Syauri menambahkan fenomena geng motor ini bukanlah hal yang baru. Bahkan Rulian tak menampik indikasi pelajar terlibat dalam kelompok ini. Bermodal menongkrong dan berkonvoi, para tersangka kemudian merekrut sejumlah orang.

Mereka kemudian diajak bergabung hingga akhirnya tertarik. “Awalnya diajak konvoi, terus dijadikan admin medsos. Setelah itu barulah menjadi mereka direkrut menjadi anggota. Ketika berani membunuh atau melukai korbannya mereka naik kelas,” kata Rulian.

Polisi sendiri, kata Rulian, mengungkap kasus ini setelah berkoordinasi dengan sejumlah alumni geng yang bertobat. Di situlah terungkap, a pelaku geng ini memiliki solidaritas nyeleneh. Salah satunya saling dukung melakukan perampokan dan melakukai korbannya. “Pada dasarnya mereka hanya menusukkan siapapun orang yang ada di jalan,” tuturnya.

Salah satu saksi mata, Dandy Rayhan mengakui bila dirinya tak saling kenal. Ia mengakui bila tak memiliki musuh baik perorangan maupun kelompok. “Saya ini kerja bang. Niat jalan malam buat cari makan,” kata Dandy. (ilham/M1/b)