Wednesday, 24 April 2019

Penyebaran Hoaks Dikhawatirkan Buat Indonesia Senasib dengan Suriah

Rabu, 13 Februari 2019 — 16:57 WIB
Ketua Ikatan Alumni Syam (Suriah) Indonesia (Alsyami), Ahmad Fathir Hambali.

Ketua Ikatan Alumni Syam (Suriah) Indonesia (Alsyami), Ahmad Fathir Hambali.

JAKARTA – Masifnya penyebaran informasi bohong alias hoaks di media sosial akhir-akhir ini dikhawatirkan akan berdampak besar bagi Indonesia.

Bahkan hoaks yang banyak beredar ditakutkan  akan membawa Indonesia pada perang berkepanjangan seperti halnya yang terjadi di Suriah.

“Jadi di Suriah menurut pengakuan dari rakyat Suriah sendiri, dari pemangku Suriah yaitu pemerintah secara resmi, konflik yang terjadi di Suriah itu 70 persen disebabkan oleh medsos (media sosial) yang mengabarkan hoaks atau kabar palsu,” ujar Ketua Ikatan Alumni Syam (Suriah) Indonesia (Alsyami), Ahmad Fathir Hambali di Jakarta, Rabu (13/2/2019).

Dia berharap kondisi di Suriah tidak terjadi di Indonesia. Produksi hoaks yang kencang terutama menjelang Pemilu 2019, diharapkan disikapi secara cerdas oleh masyarakat

“Untuk itu kita mengimbau, Suriah kan hancur disebabkan 70 persen karena hoaks. Kita mengimbau kepada seluruh rakyat Indonesia khususnya jelang pemilu ini, jika ada orang yang memberikan kabar maka carilah dan telitilah kabar tersebut,” tuturnya.

Fathir mengingatkan agar kedamaian yang berlangsung saat ini di Indonesia dijaga. Terlebih di masa pemilu, di mana potensi perpecahan sesama anak bangsa meningkat.  Ia tak ingin kondisi Indonesia berakhir seperti Suriah yang dilanda perang akibat kepentingan kelompok.

Perbedaan dalam pesta demokrasi, diminta disikapi secara lumrah dan wajar. Fathir meminta perbedaan dinilai sebagai kondisi masyarakat untuk saling melengkapi, sehingga persatuan dan kesatuan bangsa terjalin.

“Setelah mereka (rakyat Suriah) merasakan perang hampir 9 tahun ini, mereka menyesal kenapa kok dulu mereka lebih mementingkan kepentingan pribadi, partai dan sebagainya, dan tidak mementingkan kepentingan negaranya dan kedamaian. Di Indonesia mudah-mudahan tidak seperti itu,” tandas dia.

“Nah sebelum terjadi kita harus bersyukur kita kan sekarang pergi ke mana saja nyaman bisa hidup tentram. Itu harus kita jaga dan pertahankan dan jangan sampai hanya kepentingan lima tahunan ini, kita melupakan nikmat kedamaian,” tuntas pimpinan Pondok Pesantren Al-Kenaniyah itu. (ikbal/tri)