Saturday, 20 April 2019

Bom Bunuh Diri Sasar Garda Revolusi Iran 27 Orang Tewas

Kamis, 14 Februari 2019 — 7:48 WIB
Garda Revolusi kerap menjadi sasaran serangan teror.

Garda Revolusi kerap menjadi sasaran serangan teror.

IRAN- Setidaknya 27 anggota Garda Revolusi Iran meninggal dunia dalam serangan bom diri di Iran tenggara, lapor media resmi negara itu, Irna.

Pelaku menyerang bus yang mengangkut a personel Garda Revolusi di jalan Khash-Zahedan, Provinsi Sistan-Baluchistan, di dekat perbatasan dengan Pakistan pada Rabu (13/02).
Sumber-sumber yang dikutip Irna mengatakan sedikitnya 20 personel Garda Revolusi juga mengalami luka.

Kelompok Muslim Sunni, Jaish al-Adl (Tentara Keadilan), mengklaim bertanggung jawab atas serangan bom bunuh diri tersebut.

Jaish-ul Adl mengangkat senjata sejak 2012 untuk memperjuangkan yang mereka sebut hak-hak warga Iran beraliran Sunni. Mereka mengklaim mengalami diskriminasi di tangan penguasa Syiah.

‘Teroris takfiri’

Garda Revolusi di wilayah Iran tenggara mengeluarkan pernyataan yang mengungkapkan bahwa satu unit angkatan daratnya sedang dalam perjalanan dari wilayah perbatasan pada Rabu (13/02) ketika mobil berisi bom meledak di samping bus.

Garda Revolusi menuding para “teroris takfiri dan tentara bayaran badan-badan intelijen dari penguasa hegemoni”. “Takfiri” adalah istilah yang digunakan untuk menyebut ekstremis Sunni yang menganggap pemeluk bukan Sunni sebagai kafir.

Dalam pernyataan itu tidak dirinci siapa yang dimaksud dengan “penguasa hegemoni”, tetapi Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, mengaitkan pengeboman itu dengan pertemuan yang disponsori oleh Amerika Serikat tentang keamanan Timur Tengah di Warsawa, Polandia. Dalam pertemuan dibahas pula aktivitas Iran di kawasan Timur Tengah.

“Bukankah kebetulan Iran diguncang teror di hari yang sama dengan hari pertama #WarsawCircus?” Demikian cuitan Mohammad Javad Zarif, Rabu.
Kelompok Sunni Jaish al-Adl telah melancarkan sejumlah serangan terhadap personel keamanan di Sistan-Baluchistan, yang banyak penduduknya meliputi etnik Baluchi dan Muslim Sunni.

Awal bulan ini, Jaish al-Adl dituding melancarkan serangan terhadap pangkalan paramiliter Nik Shahr yang menyebabkan satu anggota Pengawal Revolusi meninggal dunia dan lima orang lainnya luka.

Pada akhir Januari, kelompok itu mengaku melakukan dua serangan bom yang menyebabkan tiga anggota polisi di Zahidan luka.

Pada Oktober 2018, Jaish al-Adl menyandera setidaknya 10 personel keamanan, termasuk anggota Garda Revolusi di pos perbatasan Mirjaveh.

Serangan dengan sasaran bus yang membawa anggota Garda Revolusi kali ini merupakan yang paling mematikan di Iran sejak September tahun lalu, ketika orang-orang bersenjata membunuh sekurang-kurangnya 24 orang dalam parade militer di kota Ahvaz, Iran barat daya.

Baik kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS maupun kelompok separatis etnik Arab di Iran mengaku bertanggung jawab tetapi keduanya tidak memberikan bukti-bukti yang mendukung klaim mereka.(BBC)