Saturday, 16 February 2019

Wanita Inggris yang Bergabung ISIS di Suriah ‘Ingin Pulang ke Rumah’

Kamis, 14 Februari 2019 — 17:05 WIB
Kadiza Sultana, Amira Abase and Shamima Begum (kanan).

Kadiza Sultana, Amira Abase and Shamima Begum (kanan).

INGGRIS- Salah seorang dari tiga remaja putri Inggris yang meninggalkan London pada 2015 untuk bergabung dengan ISIS mengatakan tidak menyesali perbuatannya, tetapi ingin kembali ke Inggris.

Dalam wawancara dengan Times, Shamima Begum, kini berusia 19 tahun, berbicara tentang “kepala yang dipenggal” di dalam keranjang. Namun dia mengaku “tidak merasa tergganggu”.

Berbicara dari kamp pengungsi di Suriah, dia mengatakan dia saat ini hamil sembilan bulan dan ingin kembali ke Inggris demi bayinya.

Dia mengaku sudah memiliki dua anak tetapi semuanya meninggal duia.

Dia juga menggambarkan bagaimana salah seorang dari dua teman sekolahnya, yang meninggalkan Inggris bersamanya, tewas akibat serangan bom. Nasib gadis ketiga tidak jelas.
“Kehidupan berjalan normal saja’

Shamima Begum dan Amira Abase, keduanya berusia 15 tahun dan siswi Bethnal Green Academy di London, sementara Kadiza Sultana, yang berusia 16 tahun, meninggalkan Inggris Februari 2015.

Mereka terbang dari Bandara Gatwick menuju Turki setelah memberi tahu orang tua mereka bahwa mereka akan keluar kota pada hari itu. Setelah tiba di Turki, mereka menyeberangi perbatasan ke Suriah.

Setelah tiba di Raqqa, dia tinggal di rumah dengan seorang calon pengantin perempuan lainnya yang juga baru tiba, katanya kepada Times.

“Saya mengajukan lamaran untuk menikah dengan pria anggota kelompok militan yang mampu berbahasa Inggris, yang usianya sekitar 20 dan 25 tahun,” katanya.

Sepuluh hari kemudian dia menikah dengan pria Belanda berusia 27 tahun yang telah memeluk Islam.

Semenjak saat itulah dia tinggal bersamanya, dan pasangan itu akhirnya melarikan diri dari Baghuz – wilayah terakhir yang diduduki kelompok itu di kawasan Suriah bagian timur – dua pekan lalu.

Suaminya menyerah kepada kelompok pejuang Suriah dan mereka akhirnya terpisah. Saat ini, Shamima Begum tinggal bersama sekitar 39.000 orang lainnya di kamp pengungsi di Suriah utara.

Ditanya oleh jurnalis Times, Anthony Loyd, apakah pengalamannya tinggal di Raqqa, sesuai dengan keinginannya, Begum mengatakan: “Ya, benar. Itu seperti kehidupan normal. Kehidupan yang mereka tunjukkan dalam video propaganda – ini adalah kehidupan normal.

“Sesekali ada bom dan sebagainya. Tapi selain itu …”

Dia mengaku melihat “kepala yang dipenggal” untuk pertama kalinya di dalam tempat sampah, tetapi dia mengaku “tidak tengganggu sama sekali”.

“Itu kepala seseorang yang ditangkap di medan perang, (dia) musuh Islam.

“Saya hanya memikirkan apa yang akan dia lakukan terhadap seorang perempuan Muslim, jika dia punya kesempatan,” katanya.

“Saya bukanlah anak sekolahan berusia 15 tahun yang konyol seperti saat saya kabur dari Bethnal Green empat tahun lalu,” katanya kepada Loyd.

“Saya tidak menyesal datang ke sini (Suriah),” tandasnya.

‘Saya selalu berpikir kami akan mati bersama’

Tetapi selama di Suriah Begum mengatakan terjadi “penindasan” yang membuat dirinya sempat “syok”. Dia lalu merasa bahwa “kekhalifahan” ISIS atau Negara Islam sudah berakhir.

“Saya tidak berharap terlalu tinggi. Mereka semakin kecil dan semakin kecil,” katanya. “Dan ada begitu banyak penindasan dan korupsi yang terjadi sehingga saya tidak berpikir mereka pantas menang.”

Dia merujuk kepada kasus yang dialami suaminya yang ditahan di penjara dan mengalami penyiksaan.

Bagaimanapun, pengacara keluarga Kadiza Sultana mengatakan pada 2016 lalu bahwa mereka meyakini Kadiza terbunuh akibat serangan udara Rusia.

Begum mengatakan kepada Times bahwa temannya tewas itu dalam serangan bom di rumah yang mereka tinggali.

Dia menambahkan: “Saya tidak pernah mengira itu akan terjadi. Awalnya saya menyangkal. Karena saya selalu berpikir jika kita terbunuh, kita akan mati terbunuh secara bersama-sama.”

‘Saya takut anak saya jatuh sakit’

Begum mengaku kehilangan dua anaknya “yang membuatnya syok”. “Itu berat sekali,” katanya.

Anak pertamanya, perempuan, meninggal pada usia satu tahun sembilan bulan, dan dimakamkan di Baghuz sebulan yang lalu.

Anak keduanya meninggal tiga bulan lalu pada usia delapan bulan, akibat sakit parah lantaran kekurangan gizi, lapor Times.

Dia mengaku sudah membawanya ke rumah sakit. “Tapi tidak ada obat yang tersedia, dan jumlah staf medisnya sedikit sekali,” katanya.

Karena itulah, dia mengaku “benar-benar bersikap amat protektif” terhadap calon bayi yang dikandungnya

Kekhawatiran terhadap calon bayinya itu juga menguatkan dirinya untuk meninggalkan Baghuz.

“Saya terlalu lemah,” katanya. “Saya tidak bisa menanggung derita dan tidak bisa bertahan dalam kesulitan di medan perang.

“Tapi saya juga khawatir kalau anak yang akan saya lahirkan nanti akan mati seperti anak-anakku lainnya, jika sayatetap tinggal (di Baghuz).”

Dia juga mengaku tetap khawatir terhadap calon bayi yang dikandungnya bakal jatuh sakit selama tinggal di kamp pengungsi.

“Itu sebabnya saya benar-benar ingin kembali ke Inggris karena saya tahu (anak saya) itu akan terurus – setidaknya dari segi kesehatan,” katanya.

“Saya akan melakukan apa saja yang diperlukan hanya untuk bisa pulang dan tinggal dengan anakku.”

Kelompok yang menamakan Negara Islam atau dulu disebut ISIS telah kehilangan kendali atas sebagian besar wilayah yang dikuasainya, termasuk pertahanan terakhir mereka yaitu Mosul di Irak dan Raqqa di Suriah.

Namun, pertempuran terus berlanjut di kawasan timur laut Suriah, tempat Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin kelompok Kurdi menangkap puluhan anggota kelompok militan dari negara-negara di luar Irak dan Suriah dalam beberapa pekan terakhir.(BBC)