Sunday, 26 May 2019

Bertanah Air Tapi Tidak Bertanah

Sabtu, 16 Februari 2019 — 8:05 WIB
dulkarung

Oleh S Saiful Rahim

“ASTAGHFIRULLAH,” ucap Dul Karung ketika melangkahi ambang pintu masuk warung kopi Mas Wargo.

“Wah gawat ni orang. Bukan memberi salam, mendoakan keselamatan untuk orang yang disambangi, malah mengucapkan istighfar. Kalau kau merasa masuk ke warung ini musibah, akan mencelakakan, ya jangan mampirlah,” tanggap orang yang duduk tepat di dekat pintu masuk seraya bergeser, berbagi tempat duduk dengan Dul Karung.

“Padahal terjadinya musibah justru karena dia mampir di warung ini. Bila dia tidak mampir pasti tidak ada yang berutang. Semua akan membayar tunai apapun yang dimakan dan diminumnya. Untuk pedagang kecil sekelas Mas Wargo, diutangi pembeli itu adalah musibah alias mala petaka,” tanggap orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang. Satu-satunya tempat duduk untuk semua pengunjung warung.

Kemudian ledakan tawa yang panjang pun terdengar memenuhi setiap sudut warung kopi kakilima yang lazimnya kecil itu.

“Sebenarnya apa sih yang membuat kau mengucap istighfar, Dul?” tanya orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

“Tu, itu tuh,” jawab Dul Karung dengan mulut yang penuh singkong goreng. Tangannya yang menunjuk ke arah TV di sudut warung yang tengah memberitakan banjir di seantero Jakarta pun, menggenggam singkong juga.

“Berita Jakarta kebanjiran? Apa luar biasanya? Sejak kota ini bernama Sundakelapa, Jayakarta, Batavia, sampai Jakarta seperti sekarang, kebanjiran di musim hujan dan kebakaran di musim panas sih hal yang biasa,” tanggap orang yang duduk selang tiga di kanan Dul Karung.

“Aku tahu itu!” kata Dul Karung setelah menelan habis singkong goreng yang ada di mulutnya.

“Yang aku belum tahu, dan sangat ingin tahu, kapan banjir itu bisa diusir dari kota yang disebut metropolitan. Setiap melihat atau mendengar ada kebanjiran di negeri ini, lebih-lebih di Jakarta yang menjadi ibu dari seluruh kotanya, aku selalu mengelus dada. Katanya kita punya tanah air, tetapi yang tampak di mata, terutama di musim hujan, kita kebanjiran sebagai petanda benar punya air. Tetapi tanah? Bagian terbesar rakyat kita tidak punya tanah. Apakah layak kita disebut bertanah air, tapi buktinya cuma punya air doang?

Dan di Jakarta, tempat aku lahir, hidup, dan bahkan mungkin juga kelak mati, lebih tragis. Penduduk aslinya, boleh dibilang, rata-rata sudah tak punya tanah. Dan air? Yang bersih pengelolaannya sudah dikontrak perusahaan asing. Kedaulatan tanah air, eh tanah dan air, di Ibu Kota Indonesia kini kebanyakan sudah ada di tangan asing,” sambung Dul Karung membuat semua pendengar terheran-heran.

Hati mereka bertanya-tanya dari mana Dul Karung mendapatkan muatan otak yang hebat seperti itu. Tetapi ketika sambil melangkah pergi Dul Karung berkata: “Biasa ya Mas. Segala yang saya makan dan minum, masukkan ke bon yang sudah-sudah,” suara “huuuuuu” pun mengiringi dengan panjang.***