Saturday, 23 March 2019

Jakarta Kembangkan Budaya Tionghoa

Rabu, 20 Februari 2019 — 4:49 WIB

MELESTARIKAN budaya, cenderung menjadi museum. Karena itu budaya sebaiknya tidak hanya dilestarikan, tetapi dikembangkan. Begitu juga budaya Tionghoa yang ada di Jakarta harus dikembangkan sehingga budaya itu akan terus ada hingga generasi muda ke depan, sebut anak cucu.

Itu pula pesan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan ketika membuka Festival Pecinan di Jalan Pancoran sisi utara, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat, Selasa ( 19/2/2019). Festival digelar dalam rangka perayaan Cap Go Meh.

Dalam konteks budaya memang kita sering mendengar istilah melestarikan atau melanggengkan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti lestari adalah seperti keadaan semula, tidak berubah, bertahan atau kekal.

Dengan begitu melestarikan budaya dapat dimaknai membuat keadaan budaya tetap seperti semula, mempertahankan kelangsungannya dengan tidak mengubah keadaan. Jika ini yang terjadi, budaya akan menjadi museum.

Lain halnya, jika budaya itu dikembangkan maka akan menjadi lebih maju, lebih meluas, merata dan lebih sempurna.

Itu yang dapat kami tangkap dari kekehendak Gubernur Anies terkait keberadaan budaya Tionghoa di Jakarta.

Perhelatan Festival Pecinan yang digelar setiap tahun dengan menggunakan dana APBD, menjadi satu bukti upaya Pemprov DKI Jakarta mengembangan budaya Tionghoa.

Ditampilkannya budaya Betawi di festival ini pun sebagai sarana pengembangan kolaborasi seni budaya yang ada di Jakarta. Kita paham, kolaborasi seni budaya sangat dibutuhkan sebagai bagian dari perwujudan sikap toleransi warga Jakarta, yang tidak melihat latar belakang kesukuan, agama, ras dan antargolongan. Itulah Jakarta sebagai miniatur negara Indonesia. Jakarta adalah milik kita semua.Jakarta memupuk kebersamaan di tengah keberagaman.

Kita patut mengapresiasi langkah yang telah ditempuh Pemprov DKI dalam mengembangkan budaya Tionghoa di Jakarta sebagai bagian dari budaya nusantara. Dukungan konkret dari masyarakat perlu diberikan melalui sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari – hari. Sikap dimaksud di antaranya toleransi, saling menghormati dan menghargai, tidak meminggirkan mereka yang ada di pinggir. (*).