Monday, 20 May 2019

Fenomena Bunuh Diri Negara Harus Hadir

Sabtu, 23 Februari 2019 — 5:32 WIB

BUNUH diri kini menjadi fenomena yang terjadi di mana-mana. Gejala ini setidaknya bisa di lihat dari peristiwa bunuh diri (bundir) yang hampir setiap hari terjadi, dengan latar belakang beragam. Mulai dari motif ekonomi, persoalan keluarga, bahkan persoalan di sekolah atau pun di kampus.

Di lihat dari usia serta latar belakang ekonomi dan sosial pelaku bunuh diri, juga beragam. Yang mengerikan, bunuh diri juga dilakukan oleh anak sekolah. Begitu mudahnya orang menghilangkan nyawanya sendiri ketika menghadapi masalah yang dirasanya sangat pelik. Mengakhiri hidup dianggap sebagai solusi. Tidak hanya dilakukan di ruang tertutup, bundir juga dilakukan di ruang publik.

Sebagai catatan, dalam sepekan ini setidaknya ada empat kasus bunuh diri yang menjadi sorotan publik. Pertama peristiwa gantung diri yang dilakukan seorang pria di kolong Jembatan Catur, Menteng Dalam, Kec. Tebet, Jaksel, Selasa (19/2). Motifnya, persoalan keluarga.

Kasus lainnya, seorang pengojek menabrakkan diri ke truk di Kalimalang, Tambun, Kab. Bekasi, Kamis (21/2). Nyawanya selamat, namun ia mengambil beling lalu menyayat leher hingga meninggal dunia di tepi jalan dan menjadi tontonan warga. Motifnya, tak kuat himpitan ekonomi.

Peristiwa lain yang menghentak publik, sorang siswa SMP di Depok, Jumat (22/2) gantung diri hanya karena malu orangtuanya dipanggil guru. Pada hari yang sama, di Lampung seorang mahasiswa menjemput maut dengan cara terjun dari atas gedung Transmart.

Rentetan peristiwa tersebut setidaknya memberi gambaran betapa kasus bunuh diri kini menjadi fenomena mengerikan. Organisasi kesehatan dunia WHO (Word Health Organization) mencatat saat ini setiap 40 detik terjadi bunuh diri di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Lebih dari 1 juta orang meninggal sia-sia setiap tahunnya. WHO memprediksi angka ini akan terus meningkat di mana tahun 2020 diperkirakan setiap 20 detik terjadi bunuh diri.

Kita tentu berharap angka bundir di Indonesia bisa ditekan. Mengatasi masalah bundir, penyelesaiannya tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada keluarga. Ini masalah sosial yang semestinya ditangani bersama, baik keluarga, praktisi serta negara secara nasional. Sejumlah negara sudah peduli mengatasi masalah ini, dan setiap 10 September diperingati sebagai Hari Pencegahan Bunuh Diri Nasional sesuai yang ditetapkan oleh International Association for Suicide Prevention.

Sebagai contoh, Jepang dalam 10 tahun terakhir telah berhasil menekan angka bundir sekitar 10 persen. Salah satu strategi yang dilakukan, yaitu mengurangi tingkat stres yang dialami masyarakatnya. Misalnya mengurangi jam kerja pegawai, tidak membebani karyawan maupun siswa dengan beban tugas berlebih, memperbaiki ekonomi, bimbingan konseling bagi keluarga dan langkah lainnya.

Sudah seharusnya Indonesia mengambil langkah seperti negara-negara lain. Intinya, negara harus sadar bahwa stres yang dialami warganya menjadi pemicu bunuh diri. Dan negara harus hadir ketika warganya mengalami pukulan psikologis yang berat serta harus memiliki solusi. **