Wednesday, 22 May 2019

Jangan Salah Pilih

Senin, 4 Maret 2019 — 15:25 WIB

Oleh H. Harmoko

PESTA demokrasi pemilihan presiden, wakil presiden (capres dan cawapres) serta wakil rakyat pusat dan daerah (DPR dan DPRD) dan juga wakil daerah (DPD) hanya berlangsung sehari, bahkan setengah hari. Bagi warga hanya lima menit di bilik TPS. Selanjutnya, kehidupan akan berlanjut sampai penyelenggaraan pilpres dan pileg berikutnya. Aktifitas warga akan normal kembali. Seperti sebelumnya dan akan begitu juga sesudahnya.

Karenanya, jangan korbankan peristiwa itu untuk meneruskan pertentangan dan kebencian karena perbedaan pilihan. Mari bersatu untuk Indonesia Jaya.

Kita, Indonesia adalah bangsa besar. Luas wilayah kita setara dengan sejumlah negara Eropa Barat yang bersatu. Setara dengan jazirah Arab yang terdiri dari 18 negara. Kita menyatukan perbedaan dalam banyak hal, suku, bahasa, agama, warna kulit, dan adat istiadat, yang atas izin Allah dipersatukan sebagai bangsa. Karenanya mari kita syukuri.

Mari kita rawat keindonesiaan kita. Rawat keacehan, keminangan, kebetawian, kejawaan, kedayakan, kebugisan dan kepapuan, serta suku lainnya dalam persatuan Indonesia. Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu, dan Kong Hu Chu sama-sama menyembah yang Maha Kuasa, Maha Melihat dan Maha Pengasih dan Penyayang.

Kita banyak mengalami ketertinggalan dalam membangun, dibanding negara -negara tetangga di Asia Tenggara yang sudah lebih sejahtera. Kita perlu menciptakan lapangan kerja lebih banyak, agar tidak ada lagi tenaga tanpa ketrampilan bekerja di luar negeri. Kita perlu swasembada pangan, mencetak kebun, sawah yang produktif agar menjadi bangsa mandiri dalam persediaan pangan, tidak menggantungkan pada produk impor.

Kita memasuki babak baru memasuki era ekonomi digital. Kita memerlukan tenaga trampil, berpengetahuan dan berkemampuan membawa negara kita menembus ekonomi global. Jangan hanya menerima dijadikan target pasar. Dengan penduduk 265 juta sebenarnya kita mampu menciptakan pasar sendiri. Bahkan mampu menembus pasar asing, khususnya 600 juta warga di ASEAN, sebagai negeri jiran terdekat.

Harus diakui dan disadari bahwa meski dalam praktik memilih di bilik suara, mencoblos para politisi yang kita pilih hanya memerlukan waktu kurang lebih lima menit, namun hasilnya akan menentukan nasib kita untuk lima tahun berikutnya.

Karenanya, jangan salah memilih. Kenali dengan baik rekam jejak orang yang Anda pilih. Baik dia itu capres, cawapres, wakil di pusat, daerah, maupun wakil daerah Anda. Jika salah memilih, yang berakibat aspirasi Anda tidak sampai ke tujuan. Bahkan suara Anda bisa dimanipulasi, dipermainkan dan diperjual- belikan untuk kepentingan partai dan pribadi politisi yang Anda pilih tersebut.

Kita telah memasuki “era masyarakat berpengetahuan.” Sebagian dari kita sudah memegang telepon pintar (smartphone) karenanya gunakanlah itu untuk mendapatkan informasi yang dipercaya sebanyak -banyaknya, dan sebenar- benarnya, dari sumber terpercaya.

Telepon genggam adalah penemuan orang- orang pintar, tapi di tangan orang jahat bisa menjadi alat memanipulasi pilihan penggunanya, dan pemegang ‘smartphone’ malah menjadi bodoh. Akibatnya Anda bisa salah menentukan pilihan.

Sekali lagi selamat memilih dan tetap menjaga persatuan.

Merdeka! ***

Oleh H. Harmoko

PESTA demokrasi pemilihan presiden, wakil presiden (capres dan cawapres) serta wakil rakyat pusat dan daerah (DPR dan DPRD) dan juga wakil daerah (DPD) hanya berlangsung sehari, bahkan setengah hari. Bagi warga hanya lima menit di bilik TPS. Selanjutnya, kehidupan akan berlanjut sampai penyelenggaraan pilpres dan pileg berikutnya. Aktifitas warga akan normal kembali. Seperti sebelumnya dan akan begitu juga sesudahnya.

Karenanya, jangan korbankan peristiwa itu untuk meneruskan pertentangan dan kebencian karena perbedaan pilihan. Mari bersatu untuk Indonesia Jaya.

Kita, Indonesia adalah bangsa besar. Luas wilayah kita setara dengan sejumlah negara Eropa Barat yang bersatu. Setara dengan jazirah Arab yang terdiri dari 18 negara. Kita menyatukan perbedaan dalam banyak hal, suku, bahasa, agama, warna kulit, dan adat istiadat, yang atas izin Allah dipersatukan sebagai bangsa. Karenanya mari kita syukuri.

Mari kita rawat keindonesiaan kita. Rawat keacehan, keminangan, kebetawian, kejawaan, kedayakan, kebugisan dan kepapuan, serta suku lainnya dalam persatuan Indonesia. Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu, dan Kong Hu Chu sama-sama menyembah yang Maha Kuasa, Maha Melihat dan Maha Pengasih dan Penyayang.

Kita banyak mengalami ketertinggalan dalam membangun, dibanding negara -negara tetangga di Asia Tenggara yang sudah lebih sejahtera. Kita perlu menciptakan lapangan kerja lebih banyak, agar tidak ada lagi tenaga tanpa ketrampilan bekerja di luar negeri. Kita perlu swasembada pangan, mencetak kebun, sawah yang produktif agar menjadi bangsa mandiri dalam persediaan pangan, tidak menggantungkan pada produk impor.

Kita memasuki babak baru memasuki era ekonomi digital. Kita memerlukan tenaga trampil, berpengetahuan dan berkemampuan membawa negara kita menembus ekonomi global. Jangan hanya menerima dijadikan target pasar. Dengan penduduk 265 juta sebenarnya kita mampu menciptakan pasar sendiri. Bahkan mampu menembus pasar asing, khususnya 600 juta warga di ASEAN, sebagai negeri jiran terdekat.

Harus diakui dan disadari bahwa meski dalam praktik memilih di bilik suara, mencoblos para politisi yang kita pilih hanya memerlukan waktu kurang lebih lima menit, namun hasilnya akan menentukan nasib kita untuk lima tahun berikutnya.

Karenanya, jangan salah memilih. Kenali dengan baik rekam jejak orang yang Anda pilih. Baik dia itu capres, cawapres, wakil di pusat, daerah, maupun wakil daerah Anda. Jika salah memilih, yang berakibat aspirasi Anda tidak sampai ke tujuan. Bahkan suara Anda bisa dimanipulasi, dipermainkan dan diperjual- belikan untuk kepentingan partai dan pribadi politisi yang Anda pilih tersebut.

Kita telah memasuki “era masyarakat berpengetahuan.” Sebagian dari kita sudah memegang telepon pintar (smartphone) karenanya gunakanlah itu untuk mendapatkan informasi yang dipercaya sebanyak -banyaknya, dan sebenar- benarnya, dari sumber terpercaya.

Telepon genggam adalah penemuan orang- orang pintar, tapi di tangan orang jahat bisa menjadi alat memanipulasi pilihan penggunanya, dan pemegang ‘smartphone’ malah menjadi bodoh. Akibatnya Anda bisa salah menentukan pilihan.

Sekali lagi selamat memilih dan tetap menjaga persatuan.

Merdeka! ***