Tuesday, 21 May 2019

Dulu Bicara Jendral Kardus Kini Ditahan Bareng Kardus

Selasa, 5 Maret 2019 — 6:48 WIB
andi arief-sentilan

SIAPA tak kenal dengan Andi Arief, Wasekjen Demokrat? Dia paling aktif ngetwit serang sana sini, kata-katanya tajam bak sembilu. Tapi paling ironis, dia yang pernah menuduh Prabowo jendral kardus, ternyata kini Andi Arief ditahan polisi di antara kardus-kardus. Publik jadi mafhum, jika ngetwit begitu galak, ternyata pemakai narkoba!

Jadi politisi elit di era gombalisasi ini, jika tidak main medsos, sungguh ketinggalan jaman. Maka politisi kondang sebagaimana Fadli Zon (Gerindra), Fahri Hamzah (PKS), Ferdinand Hutahaean (Demokrat), Andi Arief (Demokrat) sangat ngetop di jagad medsos. Tiada hari tanpa cuitan mereka; apa saja dikomentari, di mana akhirnya ditembakkan ke pemerintah.

Tapi Andi Arief yang juga Wasekjen Demokrat, paling beken dan terkenal dalam urusan ngetwit. Sebab selain ngetwit, juga senang ngelaporin orang, gara-gara urusan medsos juga. Cuma, sejak Minggu dan Senin kemarin, tiba-tiba dia menghilang dari medsos. Capekkah, sadar dirikah bahwa jari-jemarinya di medsos bisa bikin sakit hati orang? Ternyata, Andi Arief hari Minggu ditangkap polisi, gara-gara urusan narkoba di hotel.

Dalam cuitannya Andi Arif pernah menuduh Capres Prabowo jendral kardus. Tapi sekarang justru keweleh (dipermalukan) karena dia di tahanan polisi harus tidur bareng bersama banyak kotak kardus.

Sebagai aktivis medsos, jika sampai ditahan polisi, lazimnya karena ujaran kebencian. Tapi Andi Arief tidak, justru urusan narkoba. Maka publik kini  menuduh  jika dia selama ini lepas kontrol saat ngetwit, rupanya karena pengaruh narkoba.

Publik pun kini jadi teringat akan cuitannya yang bikin heboh. Selain soal jendral kardus, paling bikin geger soal 7 kontainer surat suara yang sudah dicoblos. Kini dia harus membayar mahal. Dulu Roy Suryo ngomong kebablasan ditegur SBY. Tapi Andi Arief ngomong apa saja tak dapat teguran. Kini yang menegur Allah Swt langsung.

Pinjam istilah Ahmad Dhani, kini Andi Arief naga-naganya bakal masuk “pondok pesantren” atau STIK (Sekolah Tinggi Ilmu Kesabaran). Bisa jadi  karier politiknya bakal tamat  sebab kini Demokrat tengah membahasnya. Sebagai politisi elit, sebetulnya dia bisa jadi agen perubahan. Tapi gara-gara narkoba, bebas dari penjara bisa-bisa jadi agen gas melon atau pulsa. – (gunarso ts)