Monday, 20 May 2019

Pemiliknya Sudah Tidak Laku Rumahnya Juga Susah Dijual

Rabu, 6 Maret 2019 — 7:24 WIB
sentilan rumah akil

SEBAGAI terpidana seumur hidup, Akil Mochtar eks Ketua MK itu memang sudah mati politik, mati rejeki. Dia harus menjalani kehidupan monoton di penjara hingga akhir hayatnya kelak. Namun anehnya, rumah miliknya yang sudah disita negara, ternyata ada yang mati pasaran juga, terbukti dilelang dua kali tidak ada juga yang beli.

Ada ungkapan lama mengatakan: pagar makan tanaman! Contoh konkritnya ya si Akil Mochtar ini. Bagaimana tidak? Dia dipercaya jadi Ketua MK yang menjadi penjaga terakhir konstitusi negara, eh bisa-bisanya berkhianat. Sebutan Yang Mulia baginya terpaksa berubah jadi Yang Celaka. Soalnya dia memperjual-belikan hukum untuk keuntungan dirinya sendiri.

Namanya Ketua MK, mestinya adil memutuskan perkara. Tapi si Akil tidak demikian, dalam sengketa Pilkada kalau mau menang, harus bayar sekian. Jadi bagi dia yang menang bukan kebenaran, tapi tebalnya keuangan. Integritas nomer sekian, yang penting uwang kertas!

Bermula dari sengketa Pilkada itulah, Akil Mochtar divonis seumur hidup dalam sidang Tipikor akhir Juni 2014. Dia terbukti kenyang menerima uang suap pilkada, yakni: Pilkada Kabupaten Gunung Mas Kalimantan Tengah (Rp 3 miliar), Pilkada Lebak di Banten (Rp 1 miliar), Pilkada Empat Lawang (Rp 10 miliar dan 500.000 dollar AS), dan Pilkada Kota Palembang (sekitar Rp 3 miliar).

Harta miliknya berupa, rumah, tanah dan mobil disita negara. Tapi anehnya, ada 1 rumah bekas milik Akil Mochtar di Pontianak, yang dilelang dua kali tak ada juga yang minat. Padahal rumah di Jl. Karya Baru Pontianak Tenggara itu hanya dihargai Rp 764 juta. Memang sih, kondisinya tak memadai. Orang jika mau beli rumah tersebut, itung-itung beli tanahnya saja.

Ada beberapa kemungkinan orang tak mau beli. Bisa ngeri dengan citra buruk pemiliknya, bisa pula harga yang dipatok terlalu tinggi, atau juga takut sial tinggal di bekas rumah koruptor.

Karena tak laku dilelang, akhirnya KPK menyerahkan harta sitaan itu ke Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Pontianak. Terserah mau dipakai buat apa nantinya. – (gunarso ts)