Sunday, 26 May 2019

Pelajaran dari Kasus Penangkapan Andi Arief

Jumat, 8 Maret 2019 — 7:18 WIB

PUBLIK dibikin geger atas penangkapan Wakil Sekjen Partai Demokrat, Andi Arief, di sebuah hotel atas tuduhan penyalahgunaan narkoba. Foto penggerebekan beredar luas di dunia maya, termasuk foto perempuan cantik di kamar itu.

Polisi juga sampai membongkar kloset guna mencari barang bukti narkoba, namun hasilnya nihil meski hasil tes urine Andi positif mengandung amfethanime jenis shabu.

Tokoh kontroversial yang dikenal bersuara lantang tersebut ditangkap di hotel kawasan Slipi, Jakarta Barat, Minggu (3/2/2019). Pada Selasa (5/3) malam atau dua kali 24 jam setelah penangkapan, ia dipulangkan alias dilepaskan setelah Polri mengeluarkan rekomendasi bagi Andi untuk menjalani asesmen di Badan Narkotika Nasional (BNN).

Penangkapan Andi jelas bikin geger di tengah panasnya suhu polotik saat ini. Geger pertama, dia adalah tokoh pejuang reformasi dan menduduki jabatan penting di partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sempat dikaitkan dengan isu politik, namun isu tersebut terpatahkan karena politisi yang terjerat narkoba bukan hanya Andi.

Geger kedua, informasi simpang siur tentang wanita yang disebut-sebut ada di kamar bersama Andi. Polri melalui Kadiv Humas Brigjen M Iqbal sempat mengatakan tidak ada wanita di kamar hotel. Tetapi sehari kemudian akhirnya diakui ada perempuan berisial L. Geger ketiga, beredar isu liar wanita itu adalah caleg yang kebetulan juga berinisial L, namun hal ini dibantah oleh caleg tersebut dan juga Polri.

Geger berikutnya, Andi hanya dua malam menginap di kantor polisi dan ia langsung dipulangkan. Argumen polisi, dia adalah pengguna sehingga direkomendasikan untuk direhabilitasi. Ini tak berbeda ketika seorang pegunjung diskotek yang tak ditemukan barang bukti narkoba, namun urinenya positif.

Kasus ini menjadi kontroversi dan mengundang sorotan publik lantaran masih menyimpan misteri. Telunjuk pun mengarah ke polisi yang dianggap tidak transparan. Padahal sudah terlanjur menjadi konsumsi publik, dan beribu pertanyaan menggantung di benak publik.

Ini menjadi pelajaran berharga, bahwa di era keterbukaan saat ini, semestinya tak perlu menutupi kejadian yang sebenarnya. Jelaskan secara terbuka ke publik, supaya bola liar tak terus menggelinding yang akhirnya akan merugikan Polri sendiri. Pelajaran paling penting sekaligus PR bagi pemerintah, narkoba kini telah merasuk ke semua lini tanpa memandang status sosial dan profesi. **