Sunday, 26 May 2019

Kepala Boleh Panas Hati Tetap Dingin

Sabtu, 9 Maret 2019 — 7:10 WIB

KITA sering mendengar istilah ” hati boleh panas, kepala tetap dingin”. Ada juga yang mengistilahkan “kepala boleh panas, tetapi hati harus tetap dingin. Sedingin es di kutub bumi”

Kami tidak ingin membahas mana istilah yang tepat dan benar untuk situasi saat ini, tetapi yang hendak kami sampaikan adalah kita boleh beda pendapat, boleh beda pilihan, tetapi hati harus tetap dingin, dapat berperan sebagai sebagai penyejuk suasana.

Maknanya, jika pikiran kita, otak kita tak terkontrol karena beda pendapat, beda pilihan dan beda penafsiran, ternyata hati kita ikut terbawa ke alam pikiran kita, maka yang terjadi adalah ketersinggungan, gesekan hingga perpecahan.

Kita jaga hati kita tidak ikut larut dalam carut-marut perbedaan, pertentangan, apalagi permusuhan akibat beda pilihan.

Mendekati masa kampanye terbuka, kita perlu lebih menata diri, mengelola sanubari dan membersihkan hati dari segala prasangka.

Ini menjadi penting mengingat mendekati pelaksanaan pilpres, beda pendapat kian terbuka. Bersikukuh mempertahankan bahwa pendapatnya, pendapat kelompoknya yang paling benar, sudah sangat transparan. Memaksakan kehendak bahwa pendapatnya yang paling benar, bahwa pilihannya yang paling tepat cukup jelas terlihat, tidak bisa disembunyikan lagi.

Beda pendapat diakui undang -undang. Beda pilihan juga dilindungi undang -undang. Yang tidak boleh terjadi dan harus dihindari adalah jangan karena beda pendapat dan beda pilihan lantas menabrak undang-undang.

Mari kita hormati beda pendapat. Mari lindungi beda pilihan. Pilih sesuai keyakinan calon pemimpin yang dinilai dapat membawa kemajuan.

Siapa pun pilihan kita adalah untuk Indonesia ke depan. Siapa pun yang terpilih, negeri kita tetap Indonesia. Mari bergandengan tangan meski beda pilihan.

Ingat negeri kita dibangun dengan penuh pengorbanan di atas keberagaman. Jangan lantas karena keberagaman, hanya karena beda pilihan, antaratetangga tak saling tegur. (*)