Friday, 22 March 2019

Bekas Kades jadi Brondong Akhirnya Malah Membunuh

Senin, 11 Maret 2019 — 6:46 WIB
Ilustrasi

Ilustrasi

BERLIKU-LIKU perjalanan karier anak manusia. Seperti Rolade, 38, ini misalnya. Dulu dia pernah jadi Kades di Lamongan, belakangan jadi “brondong” nenek Ninuk Turisman, 58, pengusaha restoran. Tapi gara-gara perselisihan di atas mobil, si brondong tega membunuh nenek-nenek kekasihnya.

Rejeki, jodoh dan kematian itu misteri Illahi, manusia tinggal menjalani. Yang namanya rejeki, siapa menduga Jokowi yang merintis karier sebagai pengusaha meubel, akhirnya belok jadi Walikota, Gubernur, kemudian Presiden RI. Tapi sebaliknya, ada juga yang rejekinya jeblok. Dulu jadi anggota DPR, kemudian pengin jadi Walikota, tapi akhirnya malah masuk penjara, gara-gara modal ikut Pilkada dari utangan.

Nasib Rolade dari Lamongan ini idem dito. Dulu dia pernah jadi Kades di daerahnya (2007-2013). Tapi ketika mau nyalon kedua kalinya gagal. Sebagai anak muda yang bermodal tampang ganteng bak artis sinetron sejuta episode, dia cukup optismis menatap masa depan. Bagi Rolade, masalah itu seperti empuk saja seperti daging gulung, asal kita pandai-pandai menyikapi.

Dia kemudian mencoba peruntungan ke Yogyakarta, dan kemudian bekerja di restoran. Mantan Kades yang biasa urusan administrasi pemerintahan, ternyata bisa juga banting setir ke urusan masak memasak. Dan karena kegantengannya pula, lama-lama sang bos, Ny. Ninuk Turisman, jatuh cinta pada anak buahnya tersebut. Bukan cinta nenek-nenek pada cucunya, tapi cinta antara pria dan wanita.

Sejak itu Rolade tambah makmur saja. Selain makan enak melulu di restoran, juga tidur enak bersama sang boss. Disebut berondong biarkan saja, yang pentingkan kan bukan berondong jagung seperti di alun-alun lor, depan Kraton itu. Brondong jagung kan cuma klenis (gurih), tapi yang brondong yang ini kan romantis.

Agar ke-brondong-annya tak menimbulkan curiga, belakangan Rolade dijadikan sopir pribadi, ke mana-mana juragan pergi, dia yang nyetir. Tapi jika sedang mood, keduanya masuk hotel. Di sini Rolade harus “nyetir” lagi, tapi yang masih model manual, sehingga kaki sering keju (capek). Apa lagi jika sedang nanjak, Rolade harus main setengah kopling!

Awal Maret lalu kembali Rolade-Ninuk jalan berdua. Di kala sedang nyetir, obrolan yang tadinya santai itu menjadi tegang. Bahkan Rolade saking marahnya, tega memukul sang boss yang duduk di sampingnya. Masih di daerah Sleman, mobil berhenti dan Rolade terus menghajar bos sekaligus kekasihnya itu dengan cekikan mematikan. Dan memang jadi mati beneran.

Bingung jadinya si Rolade. Mayat Ninuk Karisman dibawa muter-muter sampai ke Gresik, kemudian dibuang di pinggir jalan bilangan Dukun. Mobil ditaruh di rumahnya di Lamongan dan dia kembali ke Sleman seperti tak terjadi apa-apa. Ketika mayat juragan ditemukan, dia masih belum jadi sasaran kecurigaan, karena tak ada yang tahu bahwa sebelumnya pergi berdua.

Awalnya dikira sekedar korban perampokan belaka. Tapi polisi Gresik seminggu kemudian berhasil mengungkap misteri itu. Rolade ditangkap tanpa perlawanan di rumah kontrakannya di Sinduadi, Sleman. Bukti-bukti yang dipegang polisi, membuat Andre tak berkutik. Dia tampak loyo dan kuyu, sehingga kegantengannya pun nyaris sirna.

Tapi di atas ranjang, Rolade selalu perkasa, rosa-rosa macam Mbah Marijan. (*/Gunarso TS)