Tuesday, 26 March 2019

Mampukah MRT Memikat Penumpang?

Selasa, 12 Maret 2019 — 4:57 WIB

TRANSPORTASI publik Mass Transit Rapid atau Moda Raya Terpadu (MRT) rute Lebak Bulus-Bundaran HI hari ini, 12 Maret 2019 sudah bisa dirasakan masyarakat ibukota dalam masa uji coba dan akan melewati 13 stasiun. Terhitung hari ini sampai 24 Maret mendatang atau selama 13 hari uji coba, kereta listrik ini ditargetkan mengangkut 285.000 penumpang.

Proyek MRT yang dirancang sejak 1985 di era Presiden Soeharto, digagas oleh BJ Habibie semasa ia menjabat sebagai Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Proyek mulai dikerjakan pada 2014 lalu, dan warga Ibukota harus rela kehilangan keindahan estetika di sepanjang Jalan Sudirman-Thamrin lantaran ratusan pohon penghijau dikorbankan dan ditebangi, demi terwujudnya proyek besar tersebut.

Kereta listrik ini adalah salah satu solusi pemerintah mengatasi kemacetan di ibukota yang kian hari semakin parah. Sehingga dibutuhkan transportasi massal yang nyaman supaya pemilik mobil pribadi mau beralih ke angkutan umum. Kehadiran bus Trasjakarta belum dapat mengurai kemacetan secara signifikan. Meski telah melayani 155 rute dan jumlah penumpang pada tahun lalu mencapai 189 juta orang atau 500 ribu orang/hari, namun kemacetan di ibukota masih terjadi.

Persoalannya, tiket Rp10 ribu yang diusulkan Pemprov DKI bagi penumpang MRT, masih dianggap mahal. Banyak warga yang mengeluhkan tarif tiket yang tak sesuai dengan jarak tempuh yang hanya 5,6 kilometer. Di sisi lain, pemprov mengklaim tarif tersebut sudah ditekan karena satu penumpang disubsidi sekitar Rp30 ribu dan pemerintah daerah tidak mencari untung.

Bila dibandingkan dengan Transjakarta yang ongkosnya hanya Rp3500, tarif MRT memang jauh lebih mahal. Tetapi tak bisa dinafikkan, kedua moda transportasi tersebut masing-masing punya keunggulan. Waktu tempuh Trasjakarta belum bisa mencapai target sesuai jadwal karena jalur busway tidak steril dan masih sering terjebak kemacetan. Sedangkan MRT bebas dari kemacetan dan lebih nyaman.

MRT adalah salah satu tumpuan harapan mengatasi ruwetnya mengurai kemacetan di Jakarta. Dengan target minimal 65 ribu penumpang/hari, diharapkan bisa membantu mengatasi masalah lalu lintas di ibukota. Dalam masa uji coba ini, masya