Saturday, 23 March 2019

Di Italia, Tidak Divaksin Anak Tidak Boleh Sekolah

Rabu, 13 Maret 2019 — 8:16 WIB
Undang-Undang baru di Italia mewajibkan seorang anak mendapat 10 jenis vaksinasi.

Undang-Undang baru di Italia mewajibkan seorang anak mendapat 10 jenis vaksinasi.

ITALIA- Orang tua di Italia diwanti-wanti bahwa anak mereka tidak akan diizinkan masuk sekolah jika belum mendapat vaksinasi.

Jika nekat mengirimkan anak yang belum divaksinasi ke sekolah, orang tua akan didenda hingga €500 atau setara dengan Rp8 juta.

Pemberlakuan larangan ini ditetapkan di tengah peningkatan kasus campak. Namun para pejabat Italia mengklaim jumlah vaksinasi telah bertambah sejak larangan diterapkan.

Sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Lorenzin—dinamai demikian karena yang mengusulkan UU itu adalah mantan menteri kesehatan Italia, Beatrice Lorenzin—semua anak harus menerima sejumlah imunisasi wajib sebelum datang ke sekolah. Imunisasi itu mencakup vaksin cacar air, polio, campak, gondok, dan rubella.

Melalui UU itu pula, anak-anak balita hingga usia enam tahun tidak akan diperbolehkan masuk PAUD dan taman kanak-kanak tanpa ada bukti telah menerima vaksinasi.

Anak yang berusia enam hingga 16 tahun tidak dapat dilarang masuk sekolah, namun orang tua mereka akan didenda jika si anak tidak menerima imunisasi wajib.

Tenggat mendapat bukti vaksinasi semula dijadwalkan jatuh pada 10 Maret, namun diperpanjang hingga Senin.

“Semuanya kini punya waktu untuk mengejar ketertinggalan,” kata Menkes Giulia Grillo kepada harian La Repubblica.

Dia dilaporkan bertahan dari tekanan politik Wakil Perdana Menteri Matteo Salvini yang mendesak tenggat diperpanjang.

Grillo menegaskan aturannya sederhana, “Tidak divaksinasi, tidak boleh sekolah”.

Media di Italia melaporkan aparat daerah menangani situasi ini dalam beragam cara.

Di Bologna, pejabat setempat mengirim surat skorsing kepada orang tua dari 300 anak. Sebanyak 5.000 anak di daerah itu tidak memperbarui bukti vaksinasi mereka.

Apakah aturan itu berdampak?

Aturan baru itu diberlakukan untuk mendongkrak tingkat vaksinasi di Italia dari di bawah 80% ke target Organisasi Kesehatan Dunia sebesar 95%.

Pada Senin (11/3)—hari terakhir bagi orang tua untuk menyediakan bukti bahwa anak mereka telah menerima vaksinasi wajib—pejabat kesehatan Italia mengklaim tingka imunisasi nasional mendekati 95% bagi anak yang lahir pada 2015, tergantung dari vaksin apa yang sedang digencarkan.

Target 95% itu adalah titik ketika ‘kekebalan kelompok’ muncul—yaitu ketika sebagian besar masyarakat kebal terhadap penyakit tertentu, kelompok masyarakat yang bukan merupakan sasaran imunisasi dari penyakit tersebut turut terlindungi.

Kelompok masyarakat yang turut terlindungi ini mencakup bayi-bayi yang masih terlalu kecil untuk divaksinasi atau mereka yang mengalami kondisi medis tertentu.
Jika ‘kekebalan kelompok’ ini belum tercapai, anak yang belum divaksinasi akan terdampak.

Bulan lalu, seorang bocah delapan tahun yang sedang menjalani pemulihan akibat leukaemia, tidak dapat masuk sekolah di Kota Roma karena kekebalan tubuhnya lemah.

Anak tersebut telah berbulan-bulan mendapat perawatan, namun dia berisiko terpapar virus karena sebagian besar murid di sekolahnya belum divaksinasi, termasuk beberapa teman sekelasnya.

Mengapa orang tua tidak mengimunisasi anak mereka?

Gerakan anti-vaksi telah berkembang secara global selama beberapa tahun sehingga membangkitkan kewaspadaan WHO.

Sebuah makalah yang disusun Andrew Wakefield dituding berada di balik ketakutan sebagian orang tua untuk memvaksinasi anak mereka. Namun, rumor soal imunisasi terus berkembang sehingga menimbulkan risiko akan ada banyak orang tidak kebal terhadap penyakit-penyakit berbahaya.

Izin praktik Wakefield sendiri dicoret oleh otorita kesehatan Inggris setelah secara sembrono mengklaim ada keterkaitan antara vaksin MMR (campak, gondok, dan rubella), penyakit pencernaan, dan autisme.

Dia membuat klaim tersebut berdasarkan pengalaman 12 anak, namun tiada studi lain yang bisa membuktikan klaimnya.(BBC)