Tuesday, 19 March 2019

Yang Muda, yang Jadi Germo

Rabu, 13 Maret 2019 — 6:35 WIB
germo

MENDENGAR kata germo, yang terbayang dalam benak adalah seorang wanita gemuk dengan dandanan menor, perhiasan emas penuh di tangan dan leher. Sambil duduk di kursi goyang, mengisap rokok, klepas-klepus, kayak kereta batu bara. Gayanya nggak beda seperti Bos geng Mafia.

Sambil tersenyum, pada tamu yang datang ke lokalisasi pelacurannya, sang germo perempuan itu, memainkan kode-kode tertentu yang tahu itu para pelanggan yang setia. Dengan bahasa isyarat, si hidung belang sudah tahu kalau ada barang baru. Masih belia, cantik, imut-imut, bersih dan lengkap deh! “Ini memang sengaja saya siapkan buat Bos,” ujar si germo gemuk itu merayu.

Tapi, germo di zaman now, bisa uncang-uncang di mana saja, di kafe sambil minum kopi, teh atau camilan yang lain, sementara tangannya siap dengan HP canggihnya, memamerkan foto wanita cantik yang akan dijual pada si pelanggan, alias hidung belang. Mau tahu, germo zaman milineal, o ternyata mereka itu masih belia, alias remaja. Dengan kecanggihan tehnologi sekarang ini, dia menjajakan ‘jualannya’.

Tapi,sayang dia menjual saudara sepupunya, remaja wanita yang masih seumur dengannya. Ya, di awal-awal dia menjual orang dekat, tapi nanti menjual kawan dan orang yang masuk komunitas mereka.

Bahwa kasus prostitusi di saat sekarang ini, bisa jadi akan bekembang dan pengikutnya atau yang dijual adalah wanita belia dengan alasan ekonomi. Kilse memang, tapi begitulah kenyataannya. Mereka, juga terjebak gaya hidup yang glamour. Melihat idola mereka, para artis yang selalu pamer kekayaan dan juga gaya hidup keren.

Tentu saja, bagi remaja yang nggak mampu menahan diri, nggak tahan godaan, yang penting dapat uang mudah dan banyak. Pokoknya tinggal , ah uh aja deh. Hemm, tapi apakah sudah separah itu generasi muda sekarang ini? Demi gaya hidup, rela menjual diri? Siapa yang bertanggung jawab? Ya,yang paling dekat keluarga. Lihat perubahan anak gadisnya, kalau tiba-tiba berpenampilan glamour, perlu dicurigai.

Jangan sampai terlanjur, nasi menjadi bubur. Anak baik-baik, jadi pelacur!-massoes