Wednesday, 22 May 2019

Warga Minta Tarif MRT Tidak Lebih dari Rp 10 Ribu

Kamis, 14 Maret 2019 — 1:15 WIB
Sejumlah warga berswa foto sambil mengikuti uji coba publik pengoperasian MRT

Sejumlah warga berswa foto sambil mengikuti uji coba publik pengoperasian MRT

JAKARTA – Moda transportasi berbasis rel atau Mass Rapid Transit (MRT) Lebak Bulus- Bundaran HI telah resmi diuji coba. Masyarakat pengguna MRT berharap tarif angkutan massa itu harus di bawah Rp10 ribu.

Warga sangat antusias dan kagum saat menjajal MRT. Fasilitas dan ketepatan waktu menjadi unggulan MRT. Tetapi, mereka berharap tarif bisa di bawah Rp10 ribu.

Seperti yang diungkapkan Kurniawan, 25. Menurut pria asal Lebak Bulus itu, dia sengaja mengikuti uji coba MRT hari pertama itu untuk menghitung waktu dan biaya perjalanan dari rumah menuju tempat kerjanya di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Kurniawan kagum dengan kecepatan dan ketepatan waktu yang dirasakan langsung dari Lebak Bulus ke Bundaran HI sekitar 29 menit.

“Kalau waktu sudah oke banget dah. Dibandingkan pakai motor lebih baik naik MRT. Saya berharap tarif MRT sekitar Rp5.000,” katanya, Rabu (13/3).

Kurniawan mengaku setiap hari beraktifias dari rumah ke tempat kerja menggunakan sepeda motor. Biaya yang dihabiskan untuk bensin tidak lebih dari Rp15 ribu perhari.

Ia mengkalkulasi bila tarif MRT sekitar Rp5.000, biaya yang dihabiskanya sekitar Rp25 ribu perhari. Rincian penitipan motor Rp5.000, angkutan lanjutan dari Bundaran HI ke Kantor Tanah Abang Rp5.000.

“Tarif MRT Rp5.000. Kalau pulang pergi jadi Rp10 ribu ditambah Ongkos angkutan lanjutan Rp10 ribu pulang pergi dan penitipan motor Rp5.000. Totalnya Rp25 ribu,” ungkapnya.

TARIK ULUR

Sementara itu, tarik ulur penetapan tarif MRT masih terjadi antara eksekutif dengan DPRD DKI Jakarta . Usulan tarif yang dilayangkan Gubernur Anies Baswedan sampai saat ini belum juga disetujui dewan.

Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Mohamad Taufik mengatakan, dewan perlu mengkaji lagi usulan tersebut. “Kita tidak bisa terburu-buru,” ucapnya.

Taufik menyebut, DPRD masih memerlukan rasionalisasi agar tarif yang ditetapkan tak menjadi beban Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) di kemudian hari, juga tak membebani masyarakat.

“Jangan sampai APBD tidak kuat. Jangan sampai masyarakat juga tidak kuat dengan tarif yang diusulkan eksekutif,” sambunnya. “Kita harus hati-hati,” katanya.

Direktur Keuangan PT. Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta, Tuhiyat berharap tarif MRT bisa ditetapkan secepatnya mengingat pihaknya telah menjalani masa trial run atau uji coba mengangkut penumpang.

Ketika tarif telah ditentukan dengan rentang waktu 11 hari hingga masa berakhir uji coba di 24 Maret, menurut Tuhiyat, cukup untuk menggugah ketertarikan warga untuk menggunakan MRT. “Meski idealnya penentuan tarif itu mulai diumumkan satu atau dua bulan sebelum uji coba,” ujarnya.

MAKLUM

Asisten Perekonomian dan Keuangan Sekertariat Daerah DKI Jakarta, Sri Haryati memaklumi sikap DPRD.

Menurutnya, penundaan penetapan dengan alasan akan mendalami lagi usulan kedua tarif moda transportasi tersebut wajar dilakukan mengingat baru dilimpahkannya seluruh kajian beberapa waktu lalu dari Pemprov DKI Jakarta. “Jadi memang baru kemarin banget kami berikan,” ungkapnya.

Sri mengatakan, pihaknya bersama Dinas Perhubungan DKI Jakarta akan menyiapkan berbagai kajian yang dibutuhkan DPRD dalam pembahasan lanjutan di tingkat komisi. “Tapi saya berharap dapat ditentukan sebelum target MRT beroperasi pada 25 Maret,” tandasnya.

Seperti diketahui Pemprov DKI Jakarta usulkan tarif MRT rute Lebak Bulus-Bundara HI sebesar Rp10 ribu per penumpang. Usulan itu telah disampaikan melalui surat Gubernur Anies Baswddan ke DPRD.

Adapun tarif keekonomian untuk MRT sebenarnya Rp 31.659 per penumpang. Oleh karena itu, Pemprov DKI Jakarta menggelontorkan subsidi dari APBD agar tarif dapat diturunkan. Jumlah subsidi per penumpang Rp21.659. (guruh/st)