Tuesday, 21 May 2019

Pejuang Devisa di Ujung Gantungan

Jumat, 15 Maret 2019 — 7:10 WIB
gajelassssss

TIDAK ingin menghitung berapa banyak TKI yang divonis mati di negeri orang. Tapi bolehlah kalau ikutan berfikir bahwa urusan nasib mereka harus diperhatikan.

Bahwa, kepergian mereka ke luar negeri adalah karena sulitnya mencari nafkah di negeri sendiri. Persaingan yang ketat, banyaknya tenaga kerja dan pengangguran, dan tak adanya lahan pekerjaan yang memadai buat mereka. Dengan tekad dan iming-iming gaji yang besar, dari rekan atau tetangga mereka yang baru pulang dari luar negeri membawa dolar, ringgit, dan real.

Maka banyaklah calon TKI yang tanpa pikir panjang pergi ke luar negeri, bekerja sebagai buruh bangunan, buruh rumah tangga alias PRT. Apa boleh buat, karena itulah kemampuan yang mereka punya. Tenaga kasar. Mereka juga nggak peduli dengan berita adanya berbagai kasus yang menimpa tenaga kerja, yang dikejar-kejar petugas sampai penganiayaan yang diterima dari majikan dan kasus kejahatan lain, seperti pembunuhan yang menimpa mereka.

Jumlah kasus dari tahun ke tahun nggak pernah habis, muncul terus. TKI yang dianiaya, atau sebaliknya menganiaya,membunuh dan diancam hukuman mati. Tak sedikit yang pulang ke kampung halamannya untuk menuju liang lahat. Ya, kalau nasibnya bagus, ya lolos dari tiang gantungan.

Yang terakhir ini memang bukan sekadar nasib baik, tapi ada upaya dari pemerintah atau kelompok relawan dan kemanusian bisa membebaskan para pesakitan yang buta hukum tersebut.
Kewajiban pemerintah untuk memperhatikan para pejuang devisa tersebut. Berilah mereka bekal, pelatihan pekerjaan dan pengetahuan hukum yang berlaku di negeri orang.

Jangan biarkan mereka pergi sendiri, karena bujukan kawan atau calo yang mencari keuntungan tanpa mengindahkan nasib pekerja. Jangan remehkan hukum yang berlaku di sana. Apapun sebagai tamu harus menjaga diri. Di negeri sendiri saja, hidup nggak boleh sembarangan, apalagi di negeri orang? –massoes