Friday, 22 March 2019

Survei Rumah Demokrasi: Prabowo Sandi Ungguli Jokowi-Ma’ruf

Jumat, 15 Maret 2019 — 22:07 WIB
Jokowi dan Prabowo bersalaman saat debat pertama Capres 2019. (toga)

Jokowi dan Prabowo bersalaman saat debat pertama Capres 2019. (toga)

JAKARTA  Survei Nasional Rumah Demokrasi dilaksanakan pada tanggal 19 Februari – 1 Maret 2019 dan dipublikasi Jumat (15/3/2019) menunjukkan hasil yang mengejutkan. Pasangan Prabowo-Sandi unggul 5 persen dari pesaingnya, pasangan Jokowi –Ma’ruf Amin.

Menurut survei ini, jika Pilpres dilaksanakan hari ini, pasangan  capres-cawapres yang dipilih responden mayoritas mengarah ke paslon Prabowo-Sandiaga Uno, yakni 45,45%, sedangkan yang memilih Jokowi-Ma’ruf 40,30%..

“Mayoritas reponden menjawab memilih pasangan Capres 02 yaitu Prabowo-Sandiaga Uno sebesar 45,45%, sedangkan yang memilih pasangan Capres 01 Jokowi-Maruf Amin adalah sebesar 40,30% , dan sebanyak 14,25% belum menentukan pilihan,” kata Direktur Rumah Demokrasi, Ramdansyah, di Jakarta, Jumat (15/3).

.“Hasil survei menunjukkan bahwa elektabilitas Prabowo-Sandi saat ini unggul atas Jokowi-Maruf Amin, dengan selisih sekitar 5% dan saat dilakukan survei masih banyak undecided voters, yaitu sebanyak 14,25%.,” ujar Direktur Rumah Demokrasi, Ramdansyah, di Jakarta, Jumat (15/3).

Menurut Ramdansyah, keunggulan Prabowo-Sandi atas Jokowi-Ma’ruf Amin sangat berkaitan erat dengan strategi kampanye. Di bawah komando Jenderal Joko Santoso, strategi kampanye Prabowo-Sandi menggunakan cara gerilya yaitu rajin menyapa masyarakat dan menyerap aspirasi publik melalui kegiatan kunjungan ke daerah.

Strategi ini memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap peningkatan elektabilitas, bahkan posisi saat ini sudah unggul atas Jokowi-Ma’ruf Amin dengan selisih hampir 5%.

Model kampanye grilya di daerah basis seperti di wilayah Jabar dan Sumut bahkan ke daerah basis lawan seperti Jateng dan Jatim bahkan Bali cukup memberikan efek elektoral bagi pasangan Prabowo-Sandi. Setidaknya, mampu menggerus suara Jokowi-Maruf Amin yang cenderung stagnan di wilayah basis Prabowo-Sandi dan memangkas jarak di basisnya Jokowi-Amin (Jateng).

“Kreatifitas kampanye di lapangan seperti kunjungan ke pasar, pesantren, kampus, dan pusat keramaian sering mendapatkan respon positif dan antusiasme masyarakat terhadap Pasangan 02, meskipun beberapa kali mendapatkan hadangan dari kelompok lawan dengan meneriakkan dukungan kepada 01,” paparnya.

Selain itu lanjut Ramdansyah, strategi kampanye di sosial media juga nampak jelas bahwa tim Prabowo-Sandi selalu mampu menandingi tim Jokow-Amin, perang isu di media sosial terlihat sangat didominasi oleh kelompok tim 02. Tim sosial media 02 hampir selalu unggul tranding topik di twitter.

Terbukti pasca debat, meski nampak dalam debat Jokowi unggul, seperti serangan tentang kepemilikan lahan HGU oleh prabowo. Namun, sehari pasca debat justru berubah berbalik men-downgrade Jokowi karena serangan pembuktian data-data melalui sosial media dari tim 02.

Maksimalkan Strategi Gerilya

Dalam keterangan pers ini, lebih lanjut Ramdansyah memperediksi,  upaya Jokowi-Amin menggunakan strategi offensif dan “perang total” ala Jendral Moldoko, akan dilakukan terus di sisa waktu yang ada, guna  menarik pemilih rasional yang akan fokus pada program, kinerja dan rekam jejak.

Sebaliknya tim Prabowo-Sandi dipastikan akan memaksimalkan strategi gerilya baik melalui jalur darat menyapa langsung masyarakat maupun melalui sosial media demi mempertahankan keunggulan elektabilitas yang sudah berselsiih 5%.

“Modal sosial dalam bentuk kepercayaan publik yang sudah terbentuk dari kedua pasangan calon akan terus menarik undecided voters yang saat ini masih 14%, dengan strategi mendegradasi elektabilitas lawan,” tambahnya.

Sementara itu strategi playing victims juga berpotensi akan dimainkan untuk meng-upgrade (positive campaign) elektabilitas dari kelompoknya. Sementara itu upaya untuk mengikat pemilih sentimentil karena loyalitas etnis, kesukuan, religiusitas, dan agama masih akan terus berlangsung hingga saat pencoblosan 17 April 2019.

Strategi political endorsement dari masing-masing tokoh yang dimiliki kedua pasangan Capres-Cawapres akan turut memberikan efek electoral tentunya. Hingga saat dilakukan survei kedua kubu masih terus berupaya mendapatkan political endorsement melalui caranya masing-masing.

Dari segi kualitas demokrasi, berdasarkan temuan survei kata Ramdansyah, bsaat ini masih terjadi fenomena pertempuran yang bersifat komunal yang jauh berbeda dengan perilaku pemilih rasional, Crowd atau kerumunan yang trercermin dalam Cebong dan Kampret  sebenarnya keduanya berusaha menarik undecided voters menjadi anggota kerumunan. Yaitu dengan cara menggerus modal sosial kandidat. (win)