Tuesday, 19 March 2019

Wanita Ini Gigih Melawan Kerasnya Hati Perokok

Sabtu, 16 Maret 2019 — 5:45 WIB
Ny.Soimalia Mahar

Ny.Soimalia Mahar

RENTANG waktu 7 tahun bukan waktu yang pendek bagi Ny. Soimalia Mahar berjuang menekan dampak buruk racun rokok. Awal melangkah tahun 2012 bermodalkan tekad keras melawan kerasnya hati perokok, ia mendirikan organisasi ISTAR (Indramayu Sehat Tanpa Asap Rokok).

Wanita ini kemudian mengembangkan WITT (Wanita Indonesia Tanpa Tembakau). Tujuan mendirikan ISTAR dan WITT kata Ny.Soimalia Mahar untuk melindungi masyarakat dari dampak buruk tembakau dan melindungi Generasi Muda dari bahaya aditif nikotin rokok.

“Action sudah banyak dilakukan dari mulai tahun 2012 hingga sekarang. Tahun 2012 Saya lebih banyak bergerak di masyarakat, karena waktu itu Pemkab Indramayu belum punya aturan hukum tentang pengendalian tembakau atau rokok,” katanya.

Sudah banyak korban akibat dampak buruk perokok aktif dan perokok pasif. Bahkan bahaya bagi perokok pasif itu resikonya 3 kali lipat dari perokok aktif. “Kalau perokok aktif mereka merokok memakai filter, tapi kalau perokok pasif, asap yang keluar dari perokok itu langsung dihirup. Itu yang membahayakan kesehatan perokok pasif,” katanya.

Menjadi kewajiban ISTAR dan WITT mensosialsaisasi bahaya merokok kepada anak-anak sekolah. Mereka diberi pengertian agar dapat merubah anggapan keliru, seolah-olah merokok membanggakan dan merupakan gaya hidup yang konon dapat menaikkan gengsi dan sebagainya.

SOSIALISASI KE SEKOLAH

Sosialisasi Perda kawasan tanpa rokok (KTR) terus dilakukan ke sekolah-sekolah. Termasuk SMPN di Jatibarang. Sosialisasi bersama Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Dra. H. Lily Ulyati yang memberi materi; kenakalan remaja, pernikahan anak, pembinaan anak-anak punk. “Semua permasalahan anak itu sebisanya ditangani melibatkan jajaran Forum Anak Kabupaten Indramayu,” ujarnya.

Selama melangkah diakui banyak liku-liku dialami. “Saya pernah dipermasalahkan karena gerakan-gerakan Saya mengendalikan tembakau sehingga ada pihak yang rupanya merasa tidak nyaman,” katanya.

Meskipun banyak liku-liku namun kata Ny.Soimalia Mahar, upayanya itu telah banyak didukung masyarakat. Khususnya ibu-ibu sebagai perokok pasif. Perokok aktif juga mendukung. “Awalnya ada pro dan kontra. Tapi Alhamdulillah sekarang gaungnya lebih menggema. Lebih banyak yang mendukung. Untuk memperluas jaringan di tingkat kecamatan dibentuk Forum Kabupaten Sehat. Di tingkat desa sudah ada Pokja Desa Sehat yang dikendalikan Puskesmas,” katanya.

Yang menjadi tantangan ISTAR dan WITT ke depan katanya sosialisasi bahaya merokok itu harus terus menerus dilakukan. Bahkan intensitasnya perlu ditingkatkan, sehingga masyarakat sampai tingkat bawah memahami arti Kawasan Tanpa Rokok. (taryani/fs)