Tuesday, 18 June 2019

Dihajar Suami Sampai Jontor Gara-Gara Kencani Pelakor

Senin, 18 Maret 2019 — 8:20 WIB
gerebek

RUPANYA Tohiran, 38, peselingkuh berdarah dingin. Tertangkap basah istri kencan dengan pelakor, Ela, 30, di tempat hiburan malam, bukannya minta maaf, malah naik pitam. Bersama sang pelakor rame-rame nggebuki istrinya sampai babak belur. Dalam kondisi mulut jontor Ny. Watik, 43, lapor polisi.

Jangan pernah masuk kafe remang-remang jika imannya tidak kuat. Sebab di situ tak hanya menawarkan urusan makan-minum belaka, tapi juga ada yang menawarkan “menu” khusus berupa paha wanita cantik. Maka buat yang imannya tipis. Tadinya diajak teman malu-malu, tapi setelah ketagihan diam-diam jalan sendiri!

Tohiran warga Patumbak Medan, awalnya lelaki alim di kelasnya. Dia jadi suami yang jujur ndlujur, tak pernah macem-macem. Pulang kerja ya langsung kembali ke rumah. Tapi sekali waktu diajak teman mampir ke kafe remang-remang. Awalnya Tohiran menolak, tapi setelah dipaksa barulah ikut bergabung.

Ternyata asyik juga, sebab di sini Tohiran jadi bertambah pengalaman tentang dunia malam Medan. Wih, ceweknya cantik-cantik, seksi, banyak pula yang sekel nan cemekel. Bahkan kalau mau, ada juga yang bisa diajak koalisi langsung eksekusi. “Maka jadi orang jangan kurang piknik, Bleh. Sekali waktu nyobain dong!” kata setan berkampanye, tak peduli dengan Bawaslu.

Eh, lain waktu benar-benar Tohiran jalan sendiri ke kafe di daerah Patumbak, sekalian mau numbak. Bukan tumbak Karawelang atau Kyai Plered dari kerajaan Mataram, tapi tumbak pribadinya yang tak pernah diwarangi (dimandikan) pada malam Jumat dan Selasa Kliwon. Namun demikian dijamin josss…..

Sejak itu Tohiran jadi sering ke kafe-kafe, sampai kemudian lengket dengan salah satu pelayannya, bernama Ela. Gara-gara rajin ke kafe, anggaran di rumah jadi terjadi defisit. Lama-lama istri jadi curiga. Tapi Tohiran beralasan macem-macem yang tak masuk di akal istrinya.

Ny. Watik pun lalu membentuk TPF (tim pencari fakta) independent. Hasilnya, ternyata mengejutkan sekaligus memalukan. Kata teman-teman suami, sekarang Tohiran punya hobi blusukan ke kafe-kafe. Bukan ketemu rakyat, tapi mengumbar syahwat. “Tapi jangan bilang dari saya lho Bu,” kata sang informan.

Kurang ajar betul ini suami. Kurang apa dia memberi pelayanan pada Tohiran? Ibarat makan, kapan saja minta selalu dikasih, pokoknya selalu siap 24 jam, kecuali hari Sabtu-Minggu dan libur nasional. Kok ini masih juga jajan di luaran. Kalau belum “prothol” belum kapok rupanya.

Diam-diam beberapa malam lalu dia incognito ke kafe langganan suami. Satu dua kamar dilongok, tak ditemukan. Tapi pada kamar yang kesekian, eh…..tampak terlihat Tohiran sedang kencan dengan seorang wanita pelakor. “Ya Allah Bapak, kok sampeyan tega berbuat seperti ini!” teriak Watik tak bisa dikendalikan lagi.

Tapi Tohiran bukannya kaget dan minta maaf, justru malah menghajar istrinya. Ela selaku langganan Tohiran bukannya iba akan sesama kaumnya, malah ikut pula menghajarnya. Begitu Watik KO di ronde pertama, mereka langsung kabur. Dalam kondisi babak belur dan mulut jontor, Watik mengadu ke Polsek Patumbak.

Lapor saja, jangan takut dituduh kriminalisasi suami. (Gunarso TS)